Sesederhana Melihat



Seberes membeli buku, saya pulang menggunakan transportasi kesayangan yakni bus kota. Ketika itu penumpang bus tidak begitu banyak, sekitar 20 orang penumpang. Di dalam bus beragam karakter manusia ada, termasuk saya yang keasyikan duduk di bangku paling ujung. Jadi perempuan pendiam, cuek dan serba sibuk dengan lagu yang sedang saya  dengarkan kepada sepasang telinga.

Untuk secepatnya sampai ke tujuan awal, bus ini melewati jalan Arifin Ahmad, kemudian memasuki Pasar Pagi Arengka yang kebetulan saat pasar sorenya sedang ramai pengunjung, di tambah lagi dengan adanya pembangunan jalan fly over yang baru di bangun. Tidak hanya itu kemacetan lalu lintas pun menjadi bertambah karena kesibukan warga melakukan transaksi di jual beli di pasar.Tapi, yang namanya macet pasti tidak ada yang mau mengalah, semua pengendara motor, mobil, bahkan becak sekalipun pasti akan berebutan jalan, menjadikan jalan berasa punya sendiri agar bisa sampai ke tujuan secepat mungkin.

Dari sudut mata memandang,tidak ada pandangan yang saya lewatkan. Melalui perantara kaca bus yang transparan, mata saya beralih ke bibir jalan, kefokusan saya tertuju pada bapak tua yang berjalan seorang diri di pinggir trotoar. Ia berbaju lusuh, rambutnya yang gondrong tertutupi oleh topi hitam miliknya. Sambil menyandang tas berwarna pink, ia terlihat menggigit sebuah roti yang ia dapatkan di aspal jalan.

Memang miris, ia mengais makanan sisa yang kotor dan berdebu, bisa jadi makanan itu basi atau jajanan itu sudah tidak layak lagi untuk di makan. Tapi apalah daya, jangankan uang untuk membeli makanan, mungkin rumah untuk tempat tidur saja tidak berpunya. Ia lebih mengandalkan mencari makanan bekas orang  dibandingkan harus meminta dan merampas hak orang lain.Mungkin mendapatkan makanan seperti itu saja adalah sesuatu hal yang membahagiakan bagi si bapak, cukup dan tak mengenyangkan untuknya.

Beberapa jarak dari tempat si bapak tua itu berdiri. Saya melihat seorang nenek membantu suaminya berjalan untuk masuk ke sebuah klinik, ia memapah lelaki kesayangannya dengan sangat berhati-hati. Pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Meski melihat mereka dari jauh, saya turut merasakan kebahagiaan di hari tua mereka. Karena anak dan cucunya mendampingi orang tuanya ke klinik kesehatan. Bagi saya jarang sekali, dengan zaman seperti ini, dengan kesibukan para anak bekerja mesih sempat menemani orang tuanya untuk berobat. Tidak terasa, Saat itu juga hati saya ikut berdoa. Semoga hubungan mereka selalu diberkahi cinta dan kasih sayang. Senang saja menyaksikannya, sederhana dalam melindungi pasangan.

Setelah melihat peristiwa yang membuat hati saya terenyuh, ada pula hal yang membuat risih. Mungkin betul kata-kata orang, habis bahagia datanglah sedih, keduanya sejalan dan tidak pernah berpisah.

Di dalam bus kota itu, saya melihat sepasang sejoli yang lagi di mabuk kasmarannya anak-anak remaja zaman sekarang, anggap saja mereka sepasang suami istri. Saya tidak berkenan untuk memikirkan yang tidak-tidak. Kira-kira usia mereka terpaut 40 tahun.

Mereka duduk di bagian sebelah kiri dari posisi yang saya tempati, lebih tepatnya menghadap ke kaca. Si Lelaki ini memakai topi dan pakaian santai sehari-hari, tidak ketinggalan ia memakai sejenis sepatu olahraga, hidungnya mancung dan berkulit langsat, sedangkan perempuan ini memakai baju berwarna biru, memapah tas dengan sederet perhiasan menghiasi jemarinya.rambutnya tertutupi oleh kerudung yang ia pakai, sehingga nampak paras perempuan ini lumayan cantik.

Awalnya apa yang saya lihat baik-baik saja, hanya posisi duduk mereka yang terlalu dekat, ibaratkan dua kursi jadi satu. Setelah beberapa menit, mulailah ia merangkul perempuannya sambil membisikkan sesuatu ke telinganya,kemudian mereka ngobrol dengan jarak mulut yang begitu dekat, setelah kelihatan santai, lelaki ini meremas-remas jari-jemari perempuannya.

Mungkin, bagi sebagian kalangan itu adalah hal yang biasa saja, sesuatu yang wajar untuk mempertontonkan kebiasaan seperti itu, toh mereka sudah halal. Tapi bagi saya sebagai penumpang mereka terlalu mengumbar kemesraan di depan umum, ini bukan perkara halal atau tidak halal. Tapi ini perkara adab. Di mana letak sopan santun mereka? Tidakkah malu? Terlebih lagi ada anak kecil yang melihat, anak kecil itu pasti merekam penglihatannya. Sedangkan mereka malah memperlihatkan. Harusnya mereka sadar sudah menjadi manusia dewasa, mengerti mana yang wajar dan tidak wajar, sehingga bisa beradaptasi untuk hal-hal yang seperti itu. Saya berdoa, semoga tidak ada lagi manusia di luaran sana yang berani mengaduk keromantisannya di muka umum.

Itulah catatan sore saya hari ini, ternyata belajar itu bukan di sekolah saja kan? Sesekali keluarlah dari zona nyamanmu, agar bisa melihat seperti apa layar tancap dunia yang semakin tua ini. Jangan hanya bersarang pada kesibukan yang berkali-kali membuat isi hidupmu sangat nyaman, sehingga perkenalanmu pada dunia hanya sebatas rumah satu dengan yang lain, alias hanya mengenal tetangga saja.

Meski sesederhana melihat, hidup semakin terasa banyak warnanya. Dulu mengenal hitam dan putih, kini bermacam warna dikenali. Dan semua persepsi di pikiranmu tergantung dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Terima kasih kepada mereka yang membuat saya banyak menambah pelajaran hidup hari ini. “Alam Takambang Jadi Guru” begitulah kata pepatah kampung halaman saya. 

Catatan Sore Laila, 11 September 2018 

Komentar

Posting Komentar