Pergi Untuk Kembali
“Kalau
Bapak masih melarangku untuk keluar rumah ya sudah kita pisah saja.”
“Apa
pisah? lancang sekali kamu meminta hal sakral seperti itu. Tidak ingat kamu
punya anak!”
“Dia
sudah besar pak, aku merasa tertekan di rumah ini!
Kalimat
serapah dari mulut manusia yang paling kusayangi di dunia ini. Orang tua yang
membuat kehadiranku di nantikan oleh semua orang, bahkan memiliki mereka adalah
kebanggaan terbesar dalam hidup. Mau tidak mau harus diterima, semua pertikaian, perdebatan, dan perpisahan mereka.
“Alana,
ayo turun sayang. Makan dulu sebelum berangkat kerja,” suara mbok Farida
membangunkanku dari lamunan lima tahun yang lalu.
“Iya
mbok, Lana sudah mau turun,” jawabku sambil membawa berkas-berkas laporan yang
akan di presentasikan pagi ini di kantor
//
Setelah
sarapan pagi, aku menuju ke kantor. Oh iya aku bekerja di salah satu media yang
ada di Jakarta, tepatnya menjadi seorang wartawan. Sudah dua tahun aku bekerja
di sana, bertemu teman baru, teman lama dan teman dekat yang sampai hari ini masih
keseringan mengintiliku di kantor. Tapi, aku senang karena dengan mereka aku
bisa berbagi apapun yang sedang dirasakan. Pahit dan manis kehidupan.
“Mau
kopi? Sapa Benito berjalan ke arahku
“Ben,,,,
masih pagi. Waktu untuk ngopi bagiku itu ya sore hari,” tegurku dengan nada
bercanda
“Baiklah
Nona manis, kita minum kopi di sore hari saja. Mungkin aku akan membawa kawan
baru agar kopi yang kau minum tidak pahit terus.” Ejekan Benito sembari
memalingkan badannya pergi meninggalkanku
***
Waktu
menunjukkan pukul 15.00 sore. Tentunya aku harus buru-buru meninggalkan kantor,
supaya Benito tidak mencariku untuk menikmati kopi dengan teman barunya itu.
Belum beberapa menit, cowok jangkung pecinta buku juang itu akhirnya berdiri di
hadapanku. Tanpa bergumam, ia menarik tanganku untuk selekas-lekasnya pergi ke
tempat minum kopi dan bertemu dengan temannya.
“Ben,,
aku ingin kabur tadi,” pungkasku untuk jujur padanya
“Kabur
kok bilang-bilang Lan?” menertawaiku sambil menyalakan mobil kodoknya
“Habisnya
aku takut hilang jika kabur,” membalas guyonannya
“Lah,
jika kabur tentu akan hilang Alana, gimana sih…hahahahha.” Ia tertawa merasa
dunia anekdot ini miliknya
“Maka
dari itu aku pamit jika mau kabur nantinya,”
“Supaya
apa?”
“Supaya
kamu mencariku,” Berani sekali aku mengakhiri lelucon yang tidak romantis ini
Tetapi,
Ben malah melanjutkan guyonan yang tidak ada faedahnya itu. Hingga sampailah
kami ke kedai kopi yang Ben bilang di sepanjang perjalanan. Aku pertama kalinya
ke sini. Tempatnya sangat sejuk, karena terletak di desa yang cukup jauh dari
kota. Samping kanan dan kiri Pasanggrahan ada sawah yang terbentang luas, terus
ada kolam ikan serta air mancur yang membuatkku secepat kilat untuk minum
airnya. Tenang saja airnya berasal dari gunung, jadi aman untuk di minum. Satu
hal yang membuatku takjub adalah pemilik Pasanggrahan ini adalah sepasang kakek
dan nenek. Jarang sekali kudengar ada orang jualan kopi, tapi yang menjual
kakek dan nenek.
Tanpa
menunggu waktu lama, Benito menyuruhku duduk di Pasanggrahan. Ia sudah tahu
kopi apa yang ku suka, ya kopi hitam tanpa gula. Sedangkan Ben malah memesan
kopi sachet dengan gula dua sendok. Aku tidak akan menegurnya, karena sudah
terlalu sering untukku berkomat-kamit memarahinya untuk mengurangi makan gula.
Jadi kubiarkan saja. Cukup limat menit menunggu dua kopi jadi, Nenek
menghidangkan pesanan dan sepiring pisang goreng di hadapan kami. Kemudian Kakek
menghampiri kami, ya seperti tuan rumah mengajak tamu untuk bertukar pikiran.
“Kalian
dari mana nak?” sapa kakek sambil membenarkan posisi kupluknya
“Kami
dari Jakarta kek,” balas Ben
“Jauh
sekali kalian pergi menikmati kopi, memangnya di kota tidak ada kopi yang lebih
enak.” Kata nenek dengan nada becandaannya
“Tidak
nek, selera saya selalu berada di tempat sepeti ini.” Kata Benito yang juga
ikut dalam becandaan nenek.
Seberes
ngobrol dengan kakek dan nenek, mereka mengajak kami ke suatu tempat untuk
bertemu seseorang. Aku hanya mengikuti saja, karena aku juga penasaran siapa
sih orang tersebut. Mengapa Benito selalu membicarakannya di perjalanan.
Melewati hutan, kemudian anak sungai, dan lagi-lagi aku terjatuh. Banyak sekali
bebatuan dan tanah yang licin. Perjalanan memakan waktu setengah jam, aku ingin
menangis rasanya. Bahkan aku meminta kepada Ben untuk kembali ke Pasanggrahan
karena pisang goreng pesananku belum di makan. Tapi Ben, siap sedia di belakang
dan memberi semangat jika aku menyerah.
“Jangan
jatuh terus dong Alana, lihat jalannya, lihat apa yang kamu injak.” Ucap Ben
membuatku kesal
“Aku
sudah melihat dengan empat mata malahan Ben, tapi tetap saja jatuh terus. Kita
pulang saja Ben, hari mau gelap.” Kata Alana memasang wajah drama
“Kamu
kalah sama sepasang kekasih itu, mereka kuat meski separoh usianya sudah di
makan waktu Lan. Kamu masih muda dan banyak energi, tidak malu kah?” ucapan Ben
membuatku terenyuh
Akhirnya
kami sampai di tempat tujuan, mata ini di sambut oleh gradasi warna dari cahaya
yang sangat indah. Bayangkan saja warna merah muda, biru langit, abu-abu,
kuning keoren-orenan menyatu menjadi satu. Aku tidak berani mengedipkan mata,
sekali saja pandangan elok ini hilang aku akan menyesal. Ah! Siapa sangka senja
menarik perhatianku, membuatku jatuh cinta.
“Jadi
siapa temanmu itu Ben?” tanyaku penasaran
“lah
nak Ben belum mengatakannya kepada Alana?”
“Belum
nek,”
“Nenek
juga tahu dengan temannya Ben?, siapa nek? Cewek apa cowok nek?”
“Jelas
nenek tahu sayang, bahkan kakek dan nenek setiap hari melihatnya.”
Alana
semakin penasaran, siapa sebenarnya teman yang sering menikmati kopi bersama
Benito. Mungkinkah itu pasangan Ben, atau calon istrinya.
***
“Itu
temanku Alana.” Menunjuk senja yang hampir habis
“Senja
maksudnya?”
“Benar
sekali, kau tahu mengapa senja yang menjadi temanku?”
“Tidak
Ben.” Aku menggelengkan kepala dan berusaha menyimak
“Senja
itu teman yang setia Alana. Banyak orang bilang ia sama seperti pelangi.
Singgah sebentar, menampakkan keindahan yang begitu mempesona, kemudian pergi
tanpa sepatah aba-aba, dan meninggalkan
para penikmat.”
Aku
menyimak dengan baik, memikirkan dengan logikaku apakah benar senja teman yang
setia. Aku tahu ini bukan untaian kata kata juang yang biasa Benito tulis dalam
tulisannya.
“Senja
itu tak pernah benar-benar pergi lana, kita saja yang sering meninggalkannya.
Yang kita ketahui hanyalah saat indahnya datang kita turut menyaksikan, tapi
lihatlah yang kataya penikmat senja sekarang ini, saat cahayanya tidak keluar
atau terhimpit kawannya yang besar yaitu matahari. Kemana mereka? Mereka mengkhianati
dengan mengabadikan moment foto siluet. Atau mengumpat pada diri mereka
senjanya tidak bagus. Bukankah senja di nikmati dengan hati Alana?”
tiba-tiba
Ben duduk di sebelah kakek dan nenek
“Cara
manusia menikmati senja berbeda-beda Ben dan kita tidal bisa memasang ego untuk
menyuruh orang-orang ikut cara kita.”
“Pahamilah
apa yang aku katakan Alana, bukan kah analogiku sama seperti kehidupanmu?”
Aku
pun makin tidak mengerti dengan situasi yang dimunculkan Benito. Tentang
kehidupanku seperti apa? Kakek dan nenek pun mencoba meluruskan apa sebenarnya
maksud Ben.
“Begini
nak Alana, sebenarnya kakek dan nenek sudah kenal dengan Ben sejak lama. Saat
pertama kali kami melihatmu di pasanggrahan tadi kami hanya melontarkan basa
basi, sekedar sapaan. Dan kakek tahu apa tujuan Ben membawamu ke tepi pantai
ini.”
“Kakek
seserius ini ya ternyata?”
“Jangan
bercanda Lana, dengarkan saja kakek bicara.” Sanggah Ben memasang wajah serius
“Maaf
sebelumnya nak, kakek mengungkit masa lalumu yang kelam. Kakek melihat kamu
belum bisa melepaskan kesepianmu itu, perceraian orang tua yang membuatmu harus
berpisah dari mereka berdua”
Sentak,
aku kaget mendengarkan kalimat kakek yang membuat pikiranku kembali pada masa
lalu. Rumah itu, baju yang di pakai ibu dan bapak, suara tangis ibu, perdebatan
yang sangat kasar, koper milik ibu dan aku yang terdiam menyaksikan talak
keluar dari mulut bapakku. Nyaris air mata tidak terbendung lagi, aku tersedan
dan terisak. Di depan senja yang sudah larut, aku menjadi malu.
“Kakek
kenapa bisa sekali membaca Alana?”
“Tentu
bisa sayang, kami juga orang tua. Kami memiliki anak perempuan.” Ucap nenek
memelukku dengan erat.
“Kembalilah
kepada ibu dan bapak nak.” Kakek melanjutkan nasihatnya
“Tidak
kek, Lana sudah memutuskan hubungan dengan mereka sangat lama.”
“Jangan
seperti itu, kamu sukses sekarang berkat doa ibumu sayang, berkat didikan
bapakmu. Pahamilah ini, sakit ada obatnya, luka pun ada penyembuhnya.” Nenek menghapus
air mataku
Beberapa
menit kami terdiam bersama, Benito masih kuat berdiri melihat temannya bernama
senja itu sudah hilang. Mungkin dia juga memikirkan kata-kata apa lagi yang
cocok untuk merayuku kembali ke pangkuan
yang membuatku ada di muka bumi ini.
“Senja
itu kedua orang tuamu Alana, dan kau adalah penikmat yang menikmati jerih
payah, kasih sayang, suka duka, dan cerita mereka setiap harinya. Tidakkah mereka
masih setia sampai hari ini? Siapa yang meninggalkan dan mengkhianatinya?”
Kalimat
Ben benar-benar menusuk hatiku, ingin rasanya berteriak tanpa air mata. Tapi air
mata ini selalu mengucur ke bawah.
“Jawab
aku Alana! itu analogiku”
Ia
beranjak duduk di depanku, memegang kedua bahuku seolah memberikan kekuatan dan
menatapku dengan mengisyaratkan “jangan keras kepala Alana”
“Aku
Ben, aku! Aku yang meninggalkan mereka, aku yang mengkhianati mereka!”
Aku
marah di hadapan Ben, berteriak keras kepadanya, di depan wajahnya yang nampak lelah
Kedua
orang tua itu meninggalkan aku dan Ben di tepi pantai. Hari sudah terbilang memasuki
malam, desir ombak seolah menyuruh kami pulang, lampu-lampu yang dinyalakan
petugas di sekitar pantai sudah hidup, dan kami masih di sini.
Kakek
dan Nenek paham dengan situasi ini, tentang Ben yang pelan-pelan mulai
merobohkan tembok keras kepalaku.
“Lepaskanlah
kesepianmu dengan kembali ke salah satu dari mereka. Jangan hidup sendiri lan.”
“Aku
tidak hidup sendiri Ben, ada mbok Farida, ada teman-teman di redaksi dan ada kamu
teman dekatku. Tidakkah semua itu cukup?”
“Kau
tak akan pernah cukup tanpa orang tuamu.” Ia merendahkan volume suaranya
Sekali
lagi Ben membuatku berusaha sadar bagaimana pun orang tua, mereka tetap orang
tua yang harus di hormati. Aku menyanjungkan ketaatan pada aturan menjadi
seorang Pers, dengan selalu mengungkap kebenaran dan keadilan. Tapi aku tidak
bisa mengungkap bahwa sebenarnya dari lubuk hati terdalam merindukan mereka,
dan tak pernah adil untuk bisa bersikap setelah perceraian itu terjadi. Justru aku
meninggalkan orang-orang yang kusayangi.
“Baik
Ben, akan aku coba.” Akhirnya aku menyerah,,
“Beranilah
dan kuatkan dirimu, mereka bukan singa yang akan memakanmu Lan, tapi sebaliknya
menghangatkanmu dalam setiap kenyamanan.”
***
Sesimpul
senyuman merekah keluar dari lengkungan bibirnya, senyum yang menandakan bahwa
teman dekatnya ini akan kembali pada pelukan orang tuanya. Senyum yang turut
hadir bahwa usahanya hari ini berhasil meyakinkanku.
Kami
kembali ke Pasanggrahan, menemui sepasang sejoli kedai kopi yang ikut-ikutan
menyuntikkan nasihat kepadaku. Semoga pernikahan mereka selalu dalam
keridhoanNya


Komentar
Posting Komentar