Luka Lama
Memendam perasaan yang
tidak tahu ke mana harus dibuang akan menjadi tumpukan kesakitan yang berakhir
luka. Sakitnya terasa namun tak nampak oleh mata, pedihnya pasti membekas namun
susah dihilangkan. Muara dari semuanya berakhir luka lama dan akan menjadi masa
lalu yang pahit untuk diingat.
Masalah hidup
seringkali menjadi alasan untuk kita menghindar dari dunia yang kita ciptakan
sendiri, sedikit ada masalah saja kita lari dan enggan menyelesaikannya. Masalah
itu seperti hantu yang datangnya tanpa kita minta, kadang berat kadang bisa jadi
musuh bubuyutan. Masalah hidup yang kayak gini nih yang ngerusak semuanya.
Tentang
luka lama, timbunan dari berbagai masalah hidup yang pahit. Tak sedikit yang
tidak mengalaminya, semua manusia pernah. Ditinggal orang-orang yang pernah
mampir dihidup kita, orang yang pergi untuk selamanya, dikhianati,
diselingkuhi, tidak dianggap sebagai kekasih, dibuat baper dan diberi harapan
palsu, kecewa keluarga pisah, pernah gagal ketika bermimpi dan hal-hal
menyakitkan yang pernah terjadi di hidup masing-masing orang. Semuanya akan
jadi luka lama bila dibiarkan begitu saja, tanpa kita si pemeran utamanya menyelesaikan
dengan baik.
Aku
pernah membaca buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) yang salah satu
isinya “Kalau ada masalah itu harusnya kompromi bukannya lari” memang
betul maksud dari kalimat tersebut, namun tak semua orang melakukannya. Mengatakannya
sangat mudah tapi ketika mencoba mengerjakannya, beberapa orang perlu untuk
pergi sejenak menenangkan diri, barulah bisa untuk menyelesaikannya. Karena cara
tiap orang membereskan luka lama itu berbeda-beda.
Aku
memiliki teman yang cerita hidupnya membuatku sulit untuk berkata-kata. Bagaimana
dia menjalani hidupnya dengan segala kemewahan, namun ia tak pernah merasa
bahagia karena hidupnya dipenuhi luka yang sudah dipendam bertahun-tahun.
Ia terlahir ditengah keluarga lengkap yang
hampir saja mengalami perpisahan dari kedua orangtuanya, namun berkat caranya
menyelesaikan masalah itu sampai hari ini keluarganya tetap utuh. Tentang
kesepian yang ia lalui setiap hari, tidak memiliki teman yang begitu dekat
membuatnya hidup di antara bayang-bayang pertemanan. Makanya ketika mengikuti
kelas atau pertemuan dengan orang baru, ia tak begitu dekat dengan orang lain,
anggap saja netral bila berkawan.
Cerita asmaranya dengan seorang laki-laki
yang sangat ia sayangi, laki-laki yang begitu baik bahkan setiap mimpi dan cita
mereka sejalan untuk bisa diwujudkan bersama, perasaannya sudah diketahui namun
tak pernah digubris sama sekali, bahkan bisa dibilang hanya perempuan ini yang berjuang
sendirian, setelah itu karena persoalan sepele, kedekatannya dengan laki-laki
itu hilang. Semuanya berubah menjadi biasa-biasa saja, tak ada yang saling
butuh dan saling perbaiki, hingga keduanya seperti orang asing.
Benar
kata Jangandengerin “Semakin ke sini, semakin paham bahwa kesadaran diri itu
memang perlu. Kalau dia sengaja tak acuh hanya untuk melihat juangmu, dia
egois. Karena jika dalam nuraninya memiliki rasa dan tujuan yang sama. Dia enggak
akan pernah membiarkan kamu untuk lelah dan berjuang sendirian. Gitu.”
Tahukah
bagaimana ia bangkit? Luka itu tak pernah ia biarkan untuk ada didirinya lagi,
memilih menyibukkan diri untuk melupakan masa lalu adalah keputusan paling
tepat yang ia ambil, memilih banyak berdiskusi dengan orang baru walau ia tak
nyaman tapi ia harus paksakan itu. Karena pelan-pelan luka lama itu tak akan
terasa, berusaha menyenangkan diri sendiri, mencari waktu-waktu kosong untuk
mengisi kesendirian, kadang yang namanya metime itu perlu, melakukan
hal-hal yang paling disenangi.
Kepada
luka lama, jangan dipancing untuk diingat, jangan dilupakan untuk hindari
sakitnya. Yang mesti dilakukan adalah temukan cara untuk menyenangkan pikiran
dan badan karena pelan-pelan semuanya akan biasa dan baik-baik saja.



Karena semakin kita lari dari masalah, masalah akan tetap ada di belakang kita dan malah terkadang masalah akan tetap mengejar kita. Menghindari masalah dengan menghadirkan masalah baru.
BalasHapusLuka lama atau luka baru, lebih baik berdamai dengan luka itu, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan keadaan