Tak Tergantikan
Hari ini ibu dua kali menghubungiku lewat
via telpon. Katanya ia panik mendengarkan berita seputar Novel Coronavirus (COVID-19) sudah
masuk di Pekanbaru apalagi ia juga tahu bahwa kampusku ditutup sementara karena
ada dua mahasiswa yang suspect wabah ini. Saat aku tahu handphoneku berdering
dan nama yang muncul adalah nama beliau, awalnya aku tak ingin mengangkatnya
karena aku tahu hubunganku dengan beliau sedang tidak baik, namun anak macam
apa aku ini yang tak mau mendengar suara ibunya sendiri padahal aku tahu betul
aku merindukan beliau, begitupun sebaliknya.
Ketika
ibu mendengar suaraku satu kalimat yang masih ada dipikiranku saat ini “Kamu
ke mana aja dari kemarin, nak? ibu susah sekali menghubungi. Ayah, papa, mama
semuanya lagi panik sama situasi sekarang, semuanya nanyain kamu di sana.”
Mendengarkan ibu bicara seperti itu aku
mengesampingkan semua masalah, rasa egois dan gengsi yang ada di diri. Aku masih dan akan selalu membutuhkan beliau. Akhirnya aku bercerita panjang lebar bagaimana aku
di sini, ibu juga seperti itu bahkan ibu malah bertanya makanan gimana? Apa ibu
kirim saja dari rumah? Lantas aku mengiyakannya. Ibu langsung menyuruhku untuk
membuat list apa saja yang mau dikirim, katanya biar gampang diurusin. Bagaimana
bisa aku tidak terharu melihat sikap beliau kepadaku, aku semakin ingin bertemu
dengannya.
Aku tidak marah lagi dengannya, bahkan
ketika aku ngobrol banyak hal yang membuatku keasyikan tertawa, aku bersyukur
memiliki ibu di hidupku. Sebenarnya aku sudah ingin menghubunginya gegara
cerita seorang teman kepadaku tadi malam, aku tersadar bahwa apa yang ada
bersama kita hari ini harus dijaga baik-baik, kita bisa saja marah, kesal,
kecewa namun apakah begitu cara kita menghargai jasa ibu kita? tentu tidak,
semarah dan sesibuk apapun seorang ibu ia takkan lupa menanyakan kabar anaknya.
Bagiku ibu itu sosok yang tak
tergantikan. Ibu itu multitalent-nya aku, banyak hal yang aku pelajari
darinya. Bahkan dengan pekerjaan barunya ini aku sering dinasehati perihal
pola hidup sehat, kadang suka bandel juga makan serba enggak teratur.Ibu itu
jago nyanyi, baca puisi, ngaji irama, masak, dekor rumah, milih bahan masakan,
nawar harga barang, dan lainnya. Apapun bisa ibu lakukan. Ibu paling mengerti aku, sisi manja dan kekanak-kanakan yang kupunya hanya ibu yang tahu cara atasinya. sampai hari ini ibu masih menganggapku gadis kecil yang ia lahirkan dari rahim terbaik yang ia punya. Bu, begitu bangga aku memilikimu setiap hari. Tidak ada hari yang aku lewatkan tanpa memikirkan ibu, aku tahu berdua tidak mungkin selamanya namun semoga kita bertemu di surga-NYA. Tempat paling indah.
Bu, aku berjanji kepadamu mulai sekarang
kebahagiaan ibu adalah segalanya bagiku. Aku tidak ingin melihat air mata ibu keluar
lagi, aku tidak akan buat ibu marah sehingga kita berdua saling marahan, aku
ingin ibu ada disisiku sampai aku berkeluarga kecil nanti, aku ingin ibu
melihat anak pertamaku di masa depan. Saat itu ibu menggendongnya dan
mengatakan “Hai cucu Oma, terima kasih sudah lahir ke dunia”. Aku ingin
hari-hari ibu menyenangkan, sehat terus dan lama bersamaku. Membayangkan hal
ini saja sudah membuatku senyum sendiri, tapi tidak apa-apa, ini semua doa, doa
itu perlu dituliskan, semoga dijawab sama pencipta.


Komentar
Posting Komentar