Kepada November





Kali ini apa yang saya tulis cukup berbeda, jarang sekali saya menyampaikan begitu dalamnya perasaan ini untuk seseorang. November! Begitulah cara saya menyebut namanya. Kisah saya dengannya hanyalah moment bahagia yang saling terikat, jarang saja ada kesedihan. Obrolan-obrolan yang membuat ingin terus di dekatnya, mendengarkan setiap keluh kesah yang ia ceritakan kepada saya.

Pernah sekali saya dan dia menelusuri sebuah tempat yang isinya banyak anak-anak. Tiba-tiba saja ada seorang penjaga tempat tersebut melarang anak-anak untuk bermain di sana, mengusir mereka karena memegang komputer yang menurutnya tak diizinkan untuk disentuh. Lantas mataku tak berhenti melihat adegan yang membuatku geram.

“Kenapa? Kamu tidak suka?” tanyanya kepadaku.
“Iya aku tidak suka, mengapa mereka kasar sekali, anak-anak itu kan tidak salah,” ujarku cemberut.
“Bagi mereka mungkin itu sesuatu yang mengganggu,”
“Aku tidak melihat itu sesuatu hal yang bikin risih, toh mereka maunya belajar kok, makanya pegang komputer itu,”
“Yasudah, jangan diperpanjang lagi, pemikiran orang beda-beda,”

Akhirnya saya mengakhiri debat singkat itu dengannya, mungkin dia bertanya-tanya mengapa saya harus serunsing itu mengurusi hal sepele yang katakanlah tidak perlu diurusi. Bagi saya anak-anak itu perlu dibentuk karakternya, jangan marahi mereka dengan sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan tidak marah-marah. Karena apa? Ingatan anak usia delapan sampai sepuluh tahun masih jelas merekam setiap kejadian yang rasanya tidak mengenakkan yang terjadi di hidupnya.

Meski selang waktunya hanya beberapa menit. Itulah mengapa saya tidak menyukai orang yang membentak anak kecil, mengkasari apalagi sampai membuat nangis mereka.
Dia hanya diam setelah mendengar alasan-alasan saya itu, semoga saja dia bisa menyimpannya di dalam benak kalau saya adalah perempuan yang mudah sekali tersentuh nuraninya.

Di tempat berbeda, ketika tugas-tugas kampus lagi numpuk-numpuknya. Dengannya saya satu grup, jatah yang saya kerjakan hanya mengkopi dan print out-kan file. Tiba- tiba saya mendapat kabar jika dosen yang akan mengajar hari itu sudah masuk, karena saya diluar maka langkah kaki saya percepat hingga berlarian menuju ruang kelas. Sesampainya di kelas ternyata dosennya belum ada, dengan wajah kesal saya bergumam. Kenapa tidak valid memberikan informasi, kan saya tidak harus terburu-buru.

Saat itulah dia melihat saya, plastik yang berisi semua tugas yang sudah saya kopi itu saya berikan kepadanya.

“Ini, sudah siap,” kata saya sambil menunjukkan kekesalan

Seketika dia melihat saya yang sudah tak teratur napasnya, ia merampas plastik tersebut dan bertanya sesuatu hal yang saya rasa itu sangat manis jika laki-laki melakukan itu.

“Capek? Kamu capek? Kalau capek duduk dulu,” ujarnya sambil menarik plastik tersebut

Saya hanya pasrah dan terdiam, nada suara mulai merendah, mata sekian detik tak berkedip namun saya tetap saja kesal.

“Ia, capek,”
“Duduk dulu,” perintahnya

Saat itu juga saya mengambil kursi untuk duduk, menarik napas pelan-pelan dan berusaha untuk sabar karena ulah anak kelas. Namun pikiran saya masih tertuju kepadanya, ternyata masih ada orang di dunia ini yang peka dengan sekelilingnya. Karena biasanya untuk urusan kopi-kopi tugas pasti yang akan ditanyakan duluan itu berapa masing-masing orang bayar duitnya? Berapa banyak tugasnya dikopi? Sudah benar semua kan yang diprint? Dan pertanyaan klise lainnya.

Berbeda dengannya, dia bertanya perihal kondisi. Dia tidak menghiraukan tugas itu karena ia percaya pasti beres yang saya kerjakan. Cara dia menenangkan saya itu berbeda dari kebanyakan orang, entah saya yang belum pernah merasakan hal seperti ini atau memang sikap dia selalu begitu kepada temannya.

Hari-hari sering disibukkan dengan tugas kuliah yang tak pernah habis untuk dikerjakan, selesai satu nambah satu lagi. Namun berbagi pemikiran dengannya membahas semua tugas-tugas adalah sesuatu yang menyenangkan, dia bisa diandalkan dalam banyak hal. Berbagi cerita dan menjadi pendengar yang baik dari setiap cerita yang dia bagikan, adalah cara saya mengenal sisi lainnya yang tak pernah diketahui orang lain.

Memang benar apa yang dikatakan Oka dalam serial NKCTHI. “Banyak hal yang sederhana seringkali diperumit sama pikiran kita sendiri.” Jadi ketika banyak banget tugas dan masalah hidup, tak ada salahnya jika harus membaginya dengan orang lain yang menurut kita bisa jadi pendengar yang baik dan pemberi solusi ya walaupun kadang salah ngasi solusi, setidaknya dia sudah mendengarkan keluh kesah. Tanpa kita sadari itu membuat kita sedikit lebih baik.

Itulah mengapa kehadiran dia di hidup saya akhir-akhir ini memberikan banyak warna, mendung sudah jarang terlihat di langit-langit, yang muncul kemerah-merahnya senja sebagai penutup hari jika bersamanya saya merasa aman dan tenang. Walau kadang saya juga ikut-ikutan mengeluh, tapi dari dia saya belajar kalau ada masalah jangan lari dan jangan banyak cemas.

Karena bagi saya hal sederhana itu bisa menjadi manis jika kita menempatkan ekspektasi sesuai porsinya. Jangan berlebihan saja, karena siap-siap diserang kecewa.



Komentar

Postingan Populer