Seorang Laki-Laki yang Duduk Sendirian
![]() |
| Gambar Pribadi |
Setiap
malam di kedai mie miliknya, di sudut ruangan sebelah kiri jika dilihat dari
pekarangan depan, meja hitam bulat tak bermotif yang di atasnya hanya ada asbak
rokok kosong, di sanalah seorang laki-laki yang saya lihat dari kejauhan sedang
duduk sendirian. Pakaian yang dikenakannya hanya kaos polos dan celana panjang
hitam. Kaos warna abu-abu, hitam dan putih menjadi ciri khasnya setiap kali
terlihat di luar rumah, sepatu kets menjadikannya terlihat gagah, ditambah
pula dengan rambut klimis yang tiap kali poninya mengganggu matanya yang sayu
itu selalu dikibas ke belakang, dan itu menambah kharismanya tanpa ia ketahui.
Seorang
laki-laki yang duduk sendirian itu adalah manusia yang membuat saya jatuh hati
sampai sekarang. Mengenalnya sudah sejak enam bulan yang lalu, sebenarnya kalau
dipikir-pikir perkenalan itu hanya karena pekerjaan semata, seberes itu tak ada
lagi percakapan antara saya dengannya. Ia hanya bertumpu pada rutinitasnya
sebagai pengusaha, bertemu dengan klien atau sekadar duduk berbincang
dengan stafnya atau ia sedang menyusun beberapa project dengan
rekan-rekannya. Benar-benar sangat sibuk.
Saya kerap melihatnya dari pesan foto atau
video dirinya yang tersebar di media sosial teman-temannya yang saya ikuti,
entah yang nampak fotonya dalam kerumunan orang-orang, angle foto yang
membuatnya terlihat kecil dan blur, dan rekam video orang lain yang tak sengaja
ada dia tersorot di dalamnya. Meski saya tahu akhir-akhir ini ia cukup jarang
mengunggah cerita hidupnya ke media sosial. Tapi lagi-lagi semesta membuat saya
menemukannya.
Ada satu moment di mana setiap ia muncul di
cerita media sosial orang lain, ia selalu sendirian. Entah sedang berdiri dan
duduk. Sendiri dalam kesibukannya, makanya saya menamainya seorang laki-laki
yang duduk sendirian. Seketika bahkan beberapa kali saya melamunkan hal yang
rasanya susah untuk terpenuhi yaitu menjadi teman yang duduk di depannya.
Lamunan saya berimajinasi membawa diri ke
dalam cerita yang saya ciptakan sendiri. Isinya seperti ini “Di depannya saya
menjadi teman ngobrol sepanjang hari. Baik itu cerita berkeluh kesahnya,
kebahagiaannya, kesedihannya dan hal-hal ter-ngakak yang membuatnya tak
berhenti ketawa. Yang menemani saya dengannya di meja bulat hitam itu hanyalah
suara gerimis hujan, udara dingin yang sedang dihirup, semangkuk mie dan kopi
susu hangat. Selain itu yang terdengar hanyalah suara-suara berisiknya
orang-orang yang sedang bermain uno atau lantunan live musik suara si penyanyi
yang merdu. Lingkaran saya dengannya turut hanyut dalam obrolan tanpa tahu
waktu sudah melewati batas untuk pulang.”
Seluas itu memang kehaluan yang bersarang di
kepala. Bila ditanyai soal kejujuran ingin rasanya menjadi bagian dari cerita
hidupnya meski berawal dari seorang teman. Setiap manusia di muka bumi ini
pasti penasaran dengan cara hidupnya seseorang. Begitu pun saya yang kerap
bertanya kepada diri sendiri bagaimana ia menjalani harinya dengan kesendiriannya
itu dan apa yang ia lakukan ketika ada waktu luang. Meski tak banyak yang saya
ketahui tentangnya setidaknya ada satu dari sekian banyak jawabannya bahwa ia
sering menikmati musik kesukaannya, penyanyi favorit yang lagunya menjadi
playlist yang siap sedia ia dengarkan dikala senggang.
Seorang
laki-laki yang duduk sendirian itu lama-lama membuat saya tak berani
menghampirinya. Perasaan yang akhir-akhir ini timbul adalah takut, takut yang
bisa diartikan tidak enakan menyapanya kembali. Meski saya tahu persis bahwa
raga ini ingin untuk bertemu dengannya. Saya jadi heran kenapa bisa memiliki
sikap seperti ini padahal dia tak mengetahui hati yang sudah terlanjur menyukai
ini. Kalau pun dia tahu, bisa jadi saya benar-benar makin tidak berani untuk
mendekat kepadanya.
Saya
membiarkan perasaan ini mengalir begitu saja tanpa adanya titik yang menjadikannya
sekat, bagi saya melihatnya masih berkutik dengan segala kesibukan untuk
membahagiakan orang-orng di sekitarnya saja itu sudah lebih dari cukup. Laki-laki
yang saya lihat duduk sendirian dari kejauhan itu masih bernapas saja sudah membuat
saya lega bahwa Tuhan masih mengizinkannya untuk menjadi berguna di bumi ini,
hadirnya orang-orang baru di kehidupannya terkadang membuat saya gelisah meski
hal itu tak terlalu mempengaruhi.
Biarkanlah
semua yang terjadi berjalan dengan baik-baik saja, saya dengannya tak
mengkhawatirkan apapun. Perkara masa depan serahkan kepada pencipta, tugas saya
hanya mengikuti alur yang sudah dibuat, bila seorang laki-laki yang duduk
sendirian itu bertemu dengan teman cerita yang ternyata bukan saya, tidak
apa-apa. Imajinasi yang dibuat itu memang bagian dari doa tapi saya tidak bisa berbuat banyak. Karena bila
sejauh atau sedekat apapun saya dengannya, bila Tuhan maunya menjadikan
keduanya satu pasti bersatu. Jika tidak cerita ini memang sampai di sini saja,
tak bertambah. Perasaannya harus terhenti sampai di sini, komposisi rasanya pelan-pelan
berubah dan diam-diam berkata selamat tinggal.



Komentar
Posting Komentar