Aku Cemburu, Udah itu Saja!


Semalam membuatku tidur cepat,bagaimana denganmu? Apakah kau tidur cepat pula? Kurasa tidak. Karena malam tadi adalah malam minggu. Mungkin saja kau sedang bermain dengan kawan-kawan di sebelah rumahmu,ngopi bareng atau malah asyik main game yang sedang kekinian sekarang,atau kau masih membedah buku yang beberapa hari lalu kau incar.

Waktu menunjukkan pukul 07:20 pagi, ya aku masih di depan laptop menikmati untaian cerita yang akan aku bagi denganmu. Aku mau kau mendengarnya, ini tentang manusia-manusia yang begitu ego.

Nunggu busway, mau pulang ke kosan


Beberapa hari yang lalu, aku berkeliaran di kota. Tentunya naik busway,di dalam kendaraan persegi panjang itu aku menilai beberapa karakter manusia. Ada yang semaunya saja saat duduk,ada yang tak mau ngalah dengan orang tua,padahal sudah di peringati untuk mendahulukan orang-orang yang benar-benar di prioritaskan untuk duduk, seperti ibu hamil,orang sakit dan orang tua. Yang membuatku iba adalah ketika seorang anak SD yang rela berdiri menggantikan posisi nenek tua untuk duduk. Lantas,apakah kita sebagai orang dewasa tidak malu? Di mana hati kita? Tidakkah kita tahu di sana sudah tertulis aturannya. Mungkin,hati dan pikiran masih di belit oleh ego.

Saat transit pun, semuanya berdesak-desakan menaiki tangga yang hanya muat untuk beberapa orang saja. Peraturannya adalah, bagi penumpang yang ingin naik ke koridor bus selanjutnya harus mendahulukan orang-orang yang turun, bayangkan saja saat weekend. Penumpang busway itu berjubel dan bergelantungan di dalam, karena tidak mendapatkan tempat duduk lagi. Jelas saja, saat turun akan bersenggolan dengan orang-orang yang akan naik. Semuanya nampak tak mau kalah, demi memperebutkan kursi. Dan aku benci itu, harusnya mereka sabar. Bagaimana jika ada yang jatuh? Kasihan ibu-ibu yang menggendong anak bayinya, nenek dan kakek yang tertatih berjalan,padahal pemandu busway sudah memperingati

Itulah alasanku ingin mengajakmu suatu hari nanti mengelilingi kota dengan busway,bukan dengan motor. Karena, hidupku suka berkeliling dengan bebas,mengamati hidup orang dan memaknai hidupku sendiri.  Dari hal-hal seperti itu aku belajar tentang hidup.Mungkin,opini kita akan sama saat itu. atau bahkan kau lebih hebat dariku dalam berpendapat. Sekali saja,pergilah denganku.

Andai saja kau tahu, kau akan menjawab “tahu apa”?

Aku cemburu pada mereka yang senantiasa membantu, aku cemburu pada mereka yang masih mengalirkan keberanian untuk menegakkan keadilan, aku cemburu pada anak kecil yang tegas dalam bertindak, aku cemburu pada orang tua yang rela memberikan minuman kepada anaknya, saat kerongkongan bapaknya sudah kering akan haus, aku cemburu pada adek bayi yang belum mengerti apa-apa tentang hidup, dibandingkan  beberapa orang dewasa yang memang tidak mengerti apa-apa tentang hidupnya. Aku cemburu,udah itu saja.

Kecemburuan ini bukan semata karena aku iri pada semua yang ku lalui dalam hidup. Tipe-tipe manusia,karakter manusia,dan semua yang kulihat dari manusia. Tapi, ini adalah ketidakberdayaan hidupku sendiri. Apakah mampu atau tidak aku seperti mereka, apakah diri akan peka, peduli, tenggang rasa, rela berkorban terhadap sesama. Mungkin bisa saja beberapa dari itu hilang di makan egoitasku yang tinggi atau masih melekat di dalam diri untuk terus di pertahankan. Setidaknya setiap hari perbaikilah diri, lawan penyakit hati yang bersarang di tubuh dan saring pikiran-pikiran kotor yang masuk. Saat itu bisa di lakukan, yakinlah semua akan baik-baik saja.

Aku berharap ini bukan perihal aku saja, tapi kau dan mereka manusia-manusia ego itu.




Komentar