Pohon Tak Berdaun

Sumber foto.Dok Pribadi

Setiap ingin ke sekre, aku selalu memperhatikan satu pohon yang berada di pinggir trotoar. Pekerjaan yang tidak terlalu penting bagi seorang pejalan kaki, yaitu mengamati. Tapi setelah aku pelajari, apa yang aku amati itu ada gunanya. Pribahasa Minang berkata “Alam Takambang Jadi Guru”. Maksudnya, apa saja yang ada di alam, baik itu menyangkut daratan, perairan, udara sekalipun itu adalah guru, tempat kita belajar.  Jadi belajar tidak cuma di sekolah saja, banyak hal yang bisa kita petik di alam yang luas ini, paling tidak kita belajar tentang cara memaknai hidup.

Sejenak aku memanggilnya pohon tak berdaun. Di sekujur tubuhnya berserak ratusan ranting, setiap ranting berkelok menyerupai akar, indah untuk dipandang. Warnanya ada yang hitam dan coklat, batangnya penuh koyakan, seperti habis terbakar.Meski sering hujan mengguyurnya, dan terik matahari keasyikan menyengat batang sampai ke dasar kulitnya. Ia tetap kuat dan kokoh,ia tak lapuk di makan cuaca, tak mati di makan usia.

Menurutku,Ia tak perlu menunggu daun untuk membuatnya cantik. Jika pada akhirnya ia akan tumbang,lalu di bakar oleh tangan-tangan jahil. Setidaknya sampai hari ini ia tetap hidup meski terkadang banyak yang menganggapnya seolah mati. Mungkin jika pohon tak berdaun itu berbicara, ia akan berkata “Tugasku hanya mempercantik senja di sore hari, membiarkan manusia yang gemar foto untuk mengabadikan gambar denganku,setelah senja hilang mereka pergi meninggalkanku.”

Bagaimana tidak? Pohon tak berdaun itu di apit oleh dua bangunan besar. Sebelah kiri Masjid,dan sebelah kanan adalah Islamic Center, ditengah-tengah ada genangan air yang begitu luas,orang-orang menyebutnya danau. Saat senja datang, betapa eloknya mata menyaksikan matahari tenggelam. Di tambah lagi dengan saat sore hari banyak manusia yang beraktivitas di sana, bagaimana mungkin sekali atau dua kali tidak mengambil foto,setidaknya foto siloet. Semacam background foto di hitamin dan kelihatan lekukan objek dibelakangnya. Ya aku sering melihat orang-orang seperti itu.

Dari pohon tak berdaun kita bisa memetik pelajaran, yaitu bersyukur dengan keadaan yang ada. Kita tidak  melihat betapa banyak orang-orang yang kurang di sekitar kita. Bahkan pohon sekalipun ada kurangnya, buktinya ia tidak memiliki daun sama sekali. Tapi itu tetap menjadikannya hidup. Tuhan memberikan kekurangan bukan untuk membuat kita mengeluh akan hidup,tapi untuk melatih kita bagaimana caranya mendatangkan kekuatan,Tuhan meminta kita untuk menerima sesuatu dengan apa adanya bukan dengan ada apanya,toh jika masih megang prinsip ada apanya,itu dikarenakan niat kita salah dalam meminta.Setelah kita ditimpa dengan kekurangan,Tuhan akan melihat lagi seberapa besar rasa syukur yang kita keluarkan. Jika kita bersyukur Tuhan akan tambah nikmat hidup. Jadi,bersyukurlah setiap hari.


Komentar

Postingan Populer