Bukit Batu Manda dan Lima Perempuan
![]() |
| Caca (kanan foto), Saya, Indah, Yolan |
Kami pernah membahas hendak kemana jika sudah bertemu nanti, banyak hal yang jadi keinginan tapi banyak hal pula yang jadi wacana semata. Tapi, kalau sudah ada datang yang namanya "kapalo arak" jelas pasti akan terlaksana. Jadi berhubung kami sudah berada di dalam kawasan kota yang sama. Kami memutuskan untuk berkelana sebentar. Keluar dari keributan kota, lari dari pekerjaan rumah sebagai anak perempuan, tugas-tugas menyambut awal semester, dan lainnya.
Perjalanan mendaki bukit, kami pilih menjadi wisata liburan untuk menghilang dari peredaran kota.
dan akhirnya kami jatuh hati sama Bukit Batu Manda yang terletak di daerah Belubus Kenagarian Sungai Talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota. Sebenarnya perencanaan sangat mendadak, Berangkat dari rumah menggunakan motor dan kami terdiri dari lima orang perempuan, tidak ada laki-laki yang paham mendampingi saat mendaki. tetapi, tidak masalah selagi keselamatan menjadi prioritas dan sertakan Allah SWT dalam perjalanan, semua akan baik-baik saja.
Tiba di posko, kami menitipkan motor dengan bayaran 5.000 per/motor. Setelah memastikan motor aman, kami mulai mendaki. Saat mendaki tidak semuanya membawa bekal seperti air minum dan cemilan. Terpaksalah untuk mengisi perut kosong kami hanya makan ketoprak dan meminum satu botol air mineral untuk lima orang. Btw, ini jangan di tiru ya, meskipun hanya sekedar mendaki bukit. jangan remehkan segalanya. Keselamatan fisik luar dan dalam juga harus di jaga. Alam bukan sesuatu yang harus disepelekan, semesta akan baik bila dalam perjalanan kita memberi yang baik pula.
Kami memulai mendaki itu sekitar pukul 11.00 WIB siang, kondisi di area pendakian agak sedikit mendung. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan. Di atas bukit terdapat tiga spot pemberhentian sebelum sampai ke puncak batu besar Manda tersebut. Masing-masing spot memiliki ketinggiannya sendiri, spot inilah yang dijadikan pengunjung untuk mengabadikan gambar dengan keluarga, teman, sahabat, dan lainnya. View yang terlihat dari masing-masing spot membuat mata damai saat memandang, semakin tinggi langkah menyusuri spot lain, semakin indah pula pemandangan yang muncul ke permukaan. Tapi, saat kami mendaki cuaca sedang tidak bersahabat. jadi objek yang dilihat ketutupan kabut. Meski demikian kami tetap menikmatinya.
Dikarenakan lelah, saya menyerah untuk naik ke puncak. Saya memutuskan untuk menyudahi pendakian hanya sampai spot terakhir saja. Teman yang lain pun juga ikutan tidak melanjutkan perjalanan ke puncak Batu Mandanya. Pada akhirnya kami lebih banyak menguras pikiran dan berbagi cerita di spot ketiga saja. Bagi saya puncak itu bukan suatu kewajiban yang harus di penuhi, jika sudah lelah berhentilah,jika masih punya tenaga lanjutkanlah. keduanya pilihan. Pastikan tubuh mampu memilih yang mana. Jangan terlalu memaksa, karena pastinya akan berisiko tidak baik.
Setelah menghabiskan waktu untuk rehat di spot terakhir, kami memutuskan untuk turun. Saat itu awan sudah tidak bersahabat lagi, ia menjatuhkan rintiknya ke bumi. Ketika kami melangkah untuk turun, segerombolan orang meneriaki kami dari atas Batu Manda, mereka menyuruh kami untuk naik ke puncak.Tapi, kami masih teguh pendirian untuk tidak naik. Kami membalas sahutan mereka dengan teriakan "lanjutlah dulu kakak, kami turun,masih banyak tempat yang mau di datengin" sesampainya di bawah, kami berpapasan dengan keluarga yang ingin mendaki juga ke atas. kedua anak mereka lebih duluan dibanding ayah dan ibunya. Kedua orang tua tersebut menyapa kami untuk menanyakan sedikit hal, kami pun demikian menyapa dan tersenyum kepada mereka.
Ketika kaki sudah menyentuh daratan, kami langsung mengambil motor dan meninggalkan tempat yang membuat hati ingin kembali lagi suatu hari nanti. Tempat yang akan membuat rindu setelah dua tahun lebih tidak pernah merasakan mendaki. Tempat belajar menjadi peduli bagi orang-orang yang terlalu cuek dengan sekitar, tempat belajar mengalah dan tenggang rasa, tempat untuk mengurangi ego dan obsesi yang merusak diri. Setidaknya berbagi waktulah dengan alam, karena saat itu kita mengenal siapa diri sebenarnya.
![]() |
| Tia (kiri foto), Yolan, Saya, Caca |
Kami memulai mendaki itu sekitar pukul 11.00 WIB siang, kondisi di area pendakian agak sedikit mendung. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan. Di atas bukit terdapat tiga spot pemberhentian sebelum sampai ke puncak batu besar Manda tersebut. Masing-masing spot memiliki ketinggiannya sendiri, spot inilah yang dijadikan pengunjung untuk mengabadikan gambar dengan keluarga, teman, sahabat, dan lainnya. View yang terlihat dari masing-masing spot membuat mata damai saat memandang, semakin tinggi langkah menyusuri spot lain, semakin indah pula pemandangan yang muncul ke permukaan. Tapi, saat kami mendaki cuaca sedang tidak bersahabat. jadi objek yang dilihat ketutupan kabut. Meski demikian kami tetap menikmatinya.
![]() |
| Dok.Yolanda |
Setelah menghabiskan waktu untuk rehat di spot terakhir, kami memutuskan untuk turun. Saat itu awan sudah tidak bersahabat lagi, ia menjatuhkan rintiknya ke bumi. Ketika kami melangkah untuk turun, segerombolan orang meneriaki kami dari atas Batu Manda, mereka menyuruh kami untuk naik ke puncak.Tapi, kami masih teguh pendirian untuk tidak naik. Kami membalas sahutan mereka dengan teriakan "lanjutlah dulu kakak, kami turun,masih banyak tempat yang mau di datengin" sesampainya di bawah, kami berpapasan dengan keluarga yang ingin mendaki juga ke atas. kedua anak mereka lebih duluan dibanding ayah dan ibunya. Kedua orang tua tersebut menyapa kami untuk menanyakan sedikit hal, kami pun demikian menyapa dan tersenyum kepada mereka.
Ketika kaki sudah menyentuh daratan, kami langsung mengambil motor dan meninggalkan tempat yang membuat hati ingin kembali lagi suatu hari nanti. Tempat yang akan membuat rindu setelah dua tahun lebih tidak pernah merasakan mendaki. Tempat belajar menjadi peduli bagi orang-orang yang terlalu cuek dengan sekitar, tempat belajar mengalah dan tenggang rasa, tempat untuk mengurangi ego dan obsesi yang merusak diri. Setidaknya berbagi waktulah dengan alam, karena saat itu kita mengenal siapa diri sebenarnya.





Komentar
Posting Komentar