Mentari Harapan Baru Dari Timur: Seperti Paradisaea Apoda Mengelilingi Cakrawala
![]() |
| Photo by: Pinterest-Illustration Projects Cocorrina |
Mungkin
tak banyak yang tahu jika paradisaea apoda merupakan nama latin dari burung
cenderawasih. Salah satu jenis burung yang memiliki warna kepala kuning, dada
dan sayap berbulu coklat keemasan, tak lupa ekor putih serta bulu berwarna
kuning di ujung ekor membuatnya terlihat indah bila dipandang. Burung cenderawasih
hidup di tanah Papua, oleh karena itu “bumi cendrawasih” menjadi sebutan khas untuk
pulau terluas di Indonesia itu.
Melihat
Papua seperti melihat mentari kecil yang lama-lama jika diperhatikan akan
membesar melahirkan cahaya dalam bentuk harapan. Cahaya itu nantinya akan
terbang seperti paradisaea apoda yang mengitari cakrawalanya. Hingga cahaya itu
menemukan rumah sebagai tempat untuk bertumbuh.
Papua
tak hanya tentang Noken, sebuah tas rajut yang sudah diakui UNESCO sebagai
warisan dunia dan dipergunakan oleh masyarakat untuk membawa sayuran,
buah-buahan bahkan bayi sekalipun. Seekor babi berukuran kecil pun juga bisa
dimasukkan ke dalamnya. Papua pun tak hanya wilayah tropis yang memiliki kelembapan
udara antara 80-89 persen yang menghasilkan tebu asli sebagai tanaman
pangannya.
Papua
juga tak hanya bicara mengenai buah pinang yang dipercaya oleh masyarakat setempat
untuk memperkuat serta membersihkan gigi. Pinang yang berisikan sirih dan kapur
benar-benar digemari oleh anak-anak hingga orang dewasa, tak heran mengunyah
buah pinang termasuk ke dalam tradisi khas masyarakat yang sering dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari. Bersumber dari idntimes.com jika buah pinang sudah
tidak terasa manisnya kemudian boleh dibuang, maka dari itu akan terlihat di
tempat-tempat umum air ludah berwarna merah orang-orang yang habis makan buah
pinang.
Selain
itu bumi cendrawasih bukan hanya tentang ritual bakar batu yang dilakukan untuk
memasak makanan di wilayah pegunungan. Prosesnya bermula dengan membakar
bongkahan batu dari ukuran sedang hingga besar, jika api sudah membara seperti
unggun, batu-batu tersebut diletakkan di dalam lubang tanah, setelah itu
langsung ditutupi daun pisang, makanan-makanan yang akan diolah pun nantinya
akan ditumpukkan di atas batu tersebut.
Namun Papua juga berbicara tentang anak-anak yang lahir dari rahim tempat asalnya
sendiri. Mentari harapan ibu pertiwi yang memiliki rumah untuk tumbuh dalam menggapai
cita dan cintanya terhadap negeri. Anak-anak yang mengerti bahwa pendidikan adalah
hal penting untuk dimiliki, penting untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk
sekitar. Karena anak Papua juga anak Indonesia. Satu negara, satu tanah air.
Bila ada yang kesusahan, orang-orang berbondong untuk menolong memberi bantuan.
Bila ada yang sakit, orang-orang banyak yang peduli untuk menyelematkan.
Dilansir
dari antaranews.com bahwasanya Pemerintah Provinsi Papua (pemprov) mengirim
sebanyak 30 mahasiswa unggul orang asli Papua untuk belajar di luar negeri
terutama di Amerika Serikat. Tak hanya itu, bersumber dari Kompas.com bahwa
pemprov juga mengirimkan 350 siswa untuk mengenyam pendidikan di berbagai daerah
di pulau Jawa dan Bali, pengiriman siswa tersebut merupakan Implementasi dari
Program Afirmasi Pendidikan Menengah (adem) yang digelar pemprov Papua setiap
tahun.
Dengan
contoh yang disebutkan bisa ditarik kesimpulan, Papua tak hanya kaya dengan
kebudayaan dan sumber daya alamnya. Tapi juga kaya dengan anak-anak yang mau
belajar dan menimba ilmu ke tempat yang jauh. Anak-anak itu seperti paradisaea
apoda yang terbang mengelilingi cakrawalanya. Membawa nama baik tanah kelahiran
untuk dibanggakan sebesar-besarnya.
![]() |
| Photo by: Pinterest |
Jika
diperhatikan anak Papua itu memiliki senyum tulus yang indah, banyak para
fotografer menangkap gambar anak-anak kecil, baik itu angle closeup atau
tidak terlihat postur mereka selalu nampak tersenyum. Seolah tiada beban yang
ada di hidupnya selain bermain dengan teman sebaya. Rambut kriting, kulit
gelap dan gigi putihnya menjadi daya pikat tersendiri yang membuat mereka selalu percaya diri
bila ada yang memfotonya. Begitulah anak-anak Papua mewarnai lensa kamera
fotografer profesional Indonesia.
Selain
itu, hal yang justru terdengar mengagumkan akhir-akhir ini adalah Papua menjadi
tuan rumah dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang akan dilaksanakan
pada 2-15 Oktober 2021. Dikutip dari antaranews.com bahwa PON Papua akan
diadakan di empat klaster yaitu Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Merauke dan
Mimika.
![]() |
| Infografik by: Medcom.id |
Sebanyak 37 cabang olahraga dengan 56 disiplin dan 679 nomor yang akan dipertandingkan. Ke-37 cabang olahraga tersebut adalah aerosport, akuatik, anggar, angkat berat, atletik, baseball, bermotor, biliard, bola basket, bola tangan, bola voli, bulutangkis, catur, kricket, dayung, gulat, hockey, judo, karate, kempo,layar, menembak, muaythai, panahan, panjat tebing, pencak silat, rugby, selama, senam, sepak bola, sepak takraw, sepatu roda, taekwondo, tarung drajat, tenis, tinju, dan wushu.
Meski Gebyar PON diadakan di tengah wara-wiri pandemi, tidak melunturkan semangat
panitia besar untuk menyelenggarakan PON. Masih dilansir dari antaranews.com menurut
Ketua Harian PB PON Provinsi Papua Yunus Wonda nantinya akan menampilkan 35
talent asli Papua dan dua artis ibu kota. Di mana para talent lokal ini terdiri
dari sanggar-sanggar hingga kelompok suling tambur milik masyarakat setempat.
Tak hanya itu, akan banyak ditampilkan kuliner-kuliner khas hingga cita rasa
kopi Papua.
Tentunya
nanti yang akan memeriahkan dan turut berpartisipasi dalam festival olahraga
ini adalah anak-anak Papua. Masyarakat Papua yang antusias mengikuti arahan
dari petinggi-petinggi supaya acara besar yang diadakan di rumah mereka
berjalan dengan lancar. Karena ini merupakan momentum yang sudah
ditunggu-tunggu sejak 2020.
Mentari
harapan baru dari timur itu melahirkan anak-anak muda yang bertalenta, fisik yang
sudah dilatih untuk mempertunjukkan olahraga yang dikuasai akhirnya dilombakan
di depan publik. Nantinya akan terukir di sejarah, disiarkan di banyak surat
kabar dan media, dan dikenang sepanjang hayat bahwa Papua dan seluruh isinya
mengukir tinta emas untuk tanahnya sendiri.
Seperti
Paradisaea Apoda yang mengelilingi cakrawala, bumi cendrawasih ada karena
manusia yang tumbuh di dalamnya. Mereka yang menjaga, merawat dan melestarikan
apa yang mereka punya adalah level paling membahagiakan yang dirasakan di dalam
hati anak-anak Papua. Saling mendukung satu sama lain menjadi point penting terciptanya
semangat untuk mempersiapkan apapun yang diamanahi kepadanya.
Papua
membawa harapan untuk orang-orang yang
datang ke daerahnya. Membuat siapapun yang mengunjungi salah satu tempat
wisatanya akan dibuat tersentuh dan berkata “Wow, keren banget.” Bagaimana tidak
?, jika mendengar yang namanya Raja Ampat orang-orang pasti langsung mengatakan
kalau kawasan yang memiliki empat pulau besar seperti Waigeo, Misool, Salawati,
Batanta dan pulau-pulau kecil di sekitarnya itu terletak di Papua.
Tak
hanya itu, dilansir dari anekatempatwisata.com ada Taman Nasional Teluk Cenderawasih.
Kawasan konservasi laut terbesar dan terluas di Indonesia, dengan luas
1.453.500 hektar dan 90% nya adalah perairan sudah bisa membuat pengunjung yang
datang menyaksikan keindahan alam di bawah laut. Atau melihat Danau Sentani,
Danau Paniai, Lembah Baliem, Tugu MacArthur dan masih banyak lagi kekayaan alam
yang mampu menyejukkan mata dan cocok untuk refreshing selama liburan.
Menjelajahi
Papua tak cukup hanya satu hari. Negeri yang kaya akan wisata, budaya, kuliner
yang tidak bisa terlewatkan, galeri-galeri sejarah yang mengingatkan tentang
masa lampaunya mereka, tradisi turun temurun yang harus dicoba supaya mengerti
bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari di rumah mereka.
Pada
akhirnya seperti Paradisaea Apoda yang mengelilingi cakrawala, pesona papua
layak dikatakan sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Burung cendrawasih yang
terus terbang hilir mudik di langit tahu bahwa cakrawalanya merupakan tempat tinggal yang elok untuk
ditempati.





Komentar
Posting Komentar