Perjalanan Menemukan Sisi Pahit



Kenangan lama mengubah setiap rasa menjadi cerita, adakalanya rasa itu hanya sebutir kepahitan yang menjelma menjadi manis. Tetapi yang namanya manis,selalu terpendam kepahitan didalamnya. Meski terkadang kita tak pernah menyadarinya bahwa dia ada dan akan selalu ada.

“Ayok buruan, katanya mau ke rumah coklat. Buruan masuk mobil.” Ujar Kani menghampiri ketiga sahabatnya yang sedang nongkrong di kedai langganan.

“Bentar, tunggu Ubie dululah. Dia lagi rapat di sekolah.” Kata Sagi sembari mencicipi cemilannya

Beberapa menit kemudian Ubie terlihat tergopoh-gopoh berlari mendatangi keempat sahabatnya itu. Belum menikmati helaan napas dan duduk di kursi semuanya malah berdiri dan berbondong masuk ke mobil.

“Wah,,gila kalian. Tunggu bentar kek, gue ngos-ngosan nih.” Menampakkan wajah letih.

“ Hahaha,, di mobil kan bisa ngadem, udah buruan. Ntar  rumah coklat keburu tutup.” Ujar Seto  tertawa melihat tingkat Ubie.

Perjalanan pertama lima sekawan. Menertawai setiap kata yang keluar dari mulut, membicarakan sudut-sudut jalan menyerupai padang rumput New Zealand. Jalanan naik turun, tiang-tiang listrik yang berjajar membawa keelokan mata untuk memandang. Tubuh yang disuguhi suhu sedikit dingin membuat kami ingin cepat sampai ke rumah coklat.

“Opss parkir disini aja Kani, aman nih kayaknya.” Tutur Maddi

“Okke, kita sampai. Yok turun.” Ujar Kani selepas mengamankan parkiran mobilnya.



Memasuki rumah di dominasi warna cream disertai motif gambar di dinding membuat keunikan tersendiri bagi pendatang untuk segera menangkap lensa kamera secara bersama. Aroma biji coklat yang diolah seraya menandakan untuk pertama kalinya kami melihat proses singkat dari olahan minuman yang diminati oleh kalangan anak muda masa kini, tak hanya itu orang tua juga sangat menyukainya.

“Kita duduk disana yok, gue haus nih.” Sagi mengajak keempat sahabatnya untuk mencicipi biji coklat yang diolah.

“Boleh, gue juga haus. Btw kan itu yang kita kejar ampe bela-balain jauh-jauh datang kesini.” Tutur Maddi berjalan menghampiri tempat duduk.

Ubie, Kani dan Sagi membuka berangkas dingin yang didalamnya terkubur segerombolan coklat batangan dan ice cream coklat. Tanpa aba-aba mereka mengambil beberapa coklat dan ice cream untuk dinikmati bersama. Sembari menunggu minuman coklat panas datang.

“Wah,, enak banget. Ga heran proses yang sedemikian lama bisa menghasilkan olahan coklat yang enak.”Ungkap Kani menyuarakkan rasa sukanya pada satu batangan coklat yang dimakannya.

“Lagian bukan Cuma itu. ruangan ini cocok banget buat para instagramable untuk nge-jepret diri mereka dan jadi foto bagus untuk di posting.”Seto menambahkan kesan kekagumannya.

“Di tambah lagi setiap dinding-dindingnya dipenuhi kata-kata yang manis banget.”Ujar Sagi melirik dinding.


Akhirnya yang ditunggu datang juga, tiga cangkir coklat panas mewakili perasaan dingin saat itu. Maddi, Seto dan Ubie mencicipi rasa nikmat dari biji coklat yang telah diolah. Namanya juga coklat. Seenak apapun, semanis apapun, sisi pahit tetap tercampur di dalamnya.

“Nyeahhh,,, kalo ga nyoklat ga uuuuu.” Tutur Ubie menghirup wanginya coklat panas.

“Bolehlah,, kalo ga nyoklat ga uuuu. Btw kata siapa ya, gue pernah denger.?” Kata Maddi mencari tahu.

“Gue lihat di vlog Raditya Dika, dia ngomong kalimat kalo ga ngopi ga uuuu, itukan kopi, kita coklat hehe.” Kata Ubie sembari mengaduk coklat panasnya.

Kami menghabiskan minuman dan makanan yang telah dipesan. Selang beberapa jam kami bergegas pulang membawa beberapa coklat batangan yang dibeli. Entah sebanyak apa lensa kamera berhasil menjeprek lima sekawan dalam perjalanan pertama fullteam ini. Setengah hari yang punya arti, setengah hari komplit dan setengah hari yang punya sisi pahit.



Kami belajar dari biji coklat. Ia tak akan menemukan bahagianya rasa manis apabila proses racikan, olahan dan seduhan tak ia lalui dengan baik. Berapa banyak rasa pahit dibuang tapi bagi penikmat coklat, pahit akan tetap ada.

Kami bisa saja menciptakan kebahagian berkelanjutan. Menghindari hiruk- pikuk kota dengan segala kemacetan saat libur. Mencari ruang kosong untuk tetap bersama. Tapi, apakah kebahagiaan saja yang kami cari. Kami tak akan sampai pada titik ini tanpa kepahitan hidup menyertai, membawa sinyal bahwa hidup dinikmati bukan perihal bahagia saja, tapi bagaimana semua sisi rasa bisa bergabung.

Dan itu mengapa aku mengulik perjalanan perdana Jum’at, 14 Oktober 2016. Karena mereka! nama persahabatan yang sebentar lagi kusebut.




Komentar

Postingan Populer