Sedang Hidupkah Kita Sekarang atau Menyiakan Hidup?


“Apakah kita punya impian, dan percaya kepada masa depan, tak kenal rasa takut, tak perlu pandang bulu, tak perlu menahan diri.” Pasti temen-temen semuanya tidak asing dengan lirik lagu ini. Yap! Salah satu lirik lagu dari  JKT-48 dengan judul Beginner. Kali ini aku ingin menceritakan perempuan-perempuan hebat, tangguh, dan unik yang pernah  kutemui dalam perjalanan hidup di Tanah perantauan Pekanbaru ini.

Perjalanan menjadi salah satu mahasiswi Universitas Islam Negeri di Kota Madani membawaku pada perjalanan nurani. Perjalanan yang diisi bukan hanya dengan segudang tugas kampus, kasak-kusuknya perkuliahan atau sibuknya mengejar deadline narasumber untuk bahan berita sebagai wartawan kampus. Tapi ini perjalanan yang membuatku mengerti apa itu hidup yang sebenarnya. Sedang hidupkah kita sekarang atau malah menyia-nyiakan hidup itu?  

Perjalanan yang serta merta mewakili mata untuk terus mengeluarkan air mata, melunakkan hati untuk terus sensitif pada sekeliling, melebarkan telinga untuk siap mendengarkan cerita menarik dari sudut pandang yang berbeda, menggerakkan kaki untuk terus bergerak saat kerikil perjalanan mulai berserak dan mengganggu. Semuanya berawal dari,,,

Namanya Lia, perempuan satu jurusan denganku. Kami sama-sama “urang awak” alias satu kampung di Sumatra Barat. Kami dipertemukan saat ospek jurusan di kampus dan akhirnya kami dekat sebagai sahabat. Hidup di rantau harus pandai-pandai ngatur keuangan, apalagi jadi mahasiswi yang pengeluaran tugas lebih menggunung dibanding pengeluaran perut. Oleh karena itu Lia bekerja.

Aku menemukan sebuah chatting masuk dari dia, isinya penawaran ojek yang dibayar cuma 10.000 rupiah dengan jarak jauh ataupun dekat. Awalnya aku kaget dia mau untuk jadi ojek pribadi bagi teman-temannya dikampus, aku sempat mikir ga malu apa yaa? atau ga takut ngantarin orang kesana kemari, tau jalan ga ya di pekanbaru ini? Hari itu seabrik pertanyaan muncul di permukaan. Akhirnya aku coba menaiki ojek sahabatku ini.

Diperjalanan menuju ke salah satu tujuan, aku mendengarkan banyak hal darinya, berciloteh dan ngobrol bodoh sepanjang perjalanan, supaya bisa mengisi kesuntukan saat berkendara. Ternyata pertanyaanku yang muncul ke permukaan tadi sudah terjawab. Ini benar-benar mengasyikkan, dia lumayan tahu jalan di Pekanbaru ini, kalau ga tahu bisa bertanya sama customer, sebutan penumpang darinya. Biasanya dia jadi ojek untuk teman-teman sekelas dan orang-orang yang kenal sama dia termasuk aku. Setelah mengantarkanku ke tempat tujuan, aku dibawa Lia singgah ke rumahnya. Disana kami banyak ngobrol, kadang kalau duitnya pas-pasan nasi+abon sapi cukup baginya, setidaknya mulut cerewetku ampuh terdengar baginya kalau sering makan mie instan juga tidak boleh. Makanya Google menjadi alternatif sendiri untuk nge-share ‘makanan pengganti mie untuk anak kos’ keluarlah abon sapi. Kami benar-benar tertawa hari itu.

Memutar haluan pada lukisan yang bernama, aku menyapanya Icak. Sahabat dekat yang berawal dari kenalan singkat saat diskusi ospek fakultas, kami lansung tukeran nomor handphone hari itu juga. Dia manusia ceplos dan terbuka banget untuk cerita apapun tentang hidupnya kepadaku, entah itu cerita orangtuanya yang begitu berat untuk diceritakan, cerita tentang ayahnya yang dia selalu bilang ‘aku ga kuat kalo ngomongin ayah” sampai air matanya netes, tentang mantan pacarnya yang begitu konyol, atau tragedi penghianatan sahabat masa sekolahnya dulu.

Dia orang yang mau diajak untuk berubah kearah yang lebih baik, mencoba memakai khimar syar’i untuk pertama kalinya, lalu saat dikampus hp kesayangannya hilang di motor sendiri. Atau rasa senangnya karena bisa ikut penggalangan dana korban bencana di lampu merah untuk pertama kalinya denganku, hari itu dia memakai pakaian syar’i. Lucunya dia belum bisa untuk istiqomah. Tapi, tidak masalah setidaknya dia sudah mencoba dan merasakan rasanya nyaman saat memakai pakaian syar’i itu. suatu saat pasti ada kejutan luarbiasa dari gadis pembuat lukisan itu.

Bicara perihal lukisan, icak itu sahabat yang benar-benar pandai membuat lukisan wajah. Aku menawarkan padanya untuk membuka orderan lukis, awalnya ga kepikiran sama dia. Lambat laun akhirnya mau nyoba, akhirnya aku bantuin juga untuk promosikan lukisan dan sama-sama ngantar lukisan ke pelanggan. Setidaknya dari usaha dia ini bisa meringankan beban orang tuanya, sekalian nambahin uang jajan mahasiswi.

Berhubung perut lapar aku ingin ngajak temen-teman semuanya ke rumah bou-bou aku. Dua perempuan hebat yang begitu aku sayang dan terus menjagaku di tanah perantauan ini. Bou Ely dan bou Anik, perempuan asal Batak yang tangannya jago ngulek hidangan menjadi lezat. Mereka kakak adik, bou Anik lebih tua daripada bou Ely. Mereka berdua adiknya ayahku.

Ada kerinduan pada sehelai bahan-bahan pokok untuk sebuah masakan dapur yang begitu enak bila dirasakan. Kalian tahu itu apa? Tangan si pembuat masakan tersebut. Kedua bou-bou ku itu benar-benar pinter masak, apa yang mereka buat tertuang pada piring dan itu pasti akan enak. Mereka membuat masakan itu pakai hati, pakai tawa, dan pakai keiklasan. Keduanya sama seperti ayahku dirumah,persis.

Aku banyak belajar dari mereka, tanpa mereka ketahui aku sering mengulik dibalik dapur  saat sedang nginap di rumah mereka masing-masing atau banyak bertanya tentang resep dapur. Kadang sambil bernyanyipun mereka tetap masak. Sulit untukku mengungkapkan rasanya seperti apa, adakalanya perut-perut naga di rumah tidak akan kosong kalau sudah mencium aroma masakan ibu-ibu naga itu. Kenyang dan lapar kembali.

Terakhir! Ada satu orang yang ingin kuceritakan pada kalian. Aku benar-benar mengenal dirinya. Bahkan luar dan dalam karakternya aku selalu paham dan mengerti. Dia perempuan yang suka nulis, suka dengerin musik yang senada dengan tulisan yang ingin dia tulis. Kesehariannya hanya bergelut pada dunia jurnalistik, tepatnya belajar di salah satu Lembaga Pers Mahasiswa di kampus.

Dia perempuan kuat, tangguh, keras kepala dan tak ingin membebankan siapa-siapa saat kantongnya sedang kekeringan. Bahkan saat duit untuk bayar kosan hilang pun tak ada yang tahu kalau penggantinya adalah duit jajan sehari-harinya di kampus, lantas kalo diganti sama duit jajan, habis sudah duit jajan hari itu.

Semua terjadi dibulan Desember. Saat porsi makannya hanya bekal gorengan, kecap, terasi dan nasi. Saat dia harus punya utang dimana-mana, saat ia harus menjual handshock, masker dan menolong temannya untuk jualan lukisan bila ada orderan yang masuk. Saat itulah ia mampu memaknai hidupnya hari itu, orang tua tidak mengetahui sama sekali kalau anak sulungnya harus terjebak dalam kondisi rumit, dibebani sama tugas kampus, perut yang keroncongan, dan tugas-tugas lain yang menumpuk.

Tanpa sedikitpun menampakkan rasa sedihnya didepan teman-temannya, cukup untuk terus tersenyum dan tertawa setiap hari. Semua yang dilakukan itu iklas, toh Allah SWT akan ganti rezeki dan nikmat yang lebih bila terus bersabar atas ujian yang dialaminya. Hanya Allah SWT tempat mengadu dan meminta pertolongan saat itu. mungkin tangis yang berderai tak akan kembali masuk lagi ke mata kalau hidup diselingi sama kata mengeluh. Tahukah siapa dia? Itu adalah aku, penulis yang sedang menceritakan hidupnya saat ini.

Aku kuat karena Allah SWT senantiasa menguatkanku, aku tak ingin memberikan beban yang begitu berat kepada orangtuaku dikampung. Sedikit,,sedikit,,duit. Duit dan duit. Aku bertanggung jawab atas permasalahan hidupku, selagi aku sanggup aku mencari kerjaan untuk melunasi hutang-hutang temanku, setidaknya belajar menghargai hidup dimasa muda. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Meski pada akhirnya mereka akan tahu juga cerita ini.

Aku berfikir, ohh beginikah rasanya menahan lapar, makan seadanya, tak punya duit sepersenpun. Seperti ada teguran dari Allah SWT kepadaku. Nuraniku berbicara kalau hidup perlu rasa syukur, hidup perlu rasa empati, kamu hanya menahan lapar dan kemudian bisa makan. Lihatlah orang-orang yang mereka juga menahan lapar tapi tak ada yang bisa mereka makan. Ayolah berbagi sedikit rezekimu,sebagian rezekimu juga ada rezeki saudaramu yang membutuhkan. Ungkapan nuraniku~

Memaknai hidup dari kisah sederhana yang kuceritakan barusan adalah sebuah keberuntungan sendiri bagiku, dari mereka sumber inspirasiku termasuk diriku sendiri, diri yang menginspirasi bahwa aku bisa lalui itu. Melakukan perjalanan bukan hanya tahu permukaannya saja, kita harus masuk sampai kepada kulit-kulitnya agar kita bisa benar-benar memahami hidup itu sendiri. Berusahalah sampai dimana kalian merasakan jatuh dan tidak sanggup lagi untuk berdiri, jangan putuskan usaha saat kaki kalian belum jatuh karena Allah SWT sedang lihat dan menguji hambanya yang kuat.

Sedang hidupkah kita sekarang atau sedang menyiakan hidup? Ya! Aku dan kalian sedang hidup sekarang! J

           


Komentar

Postingan Populer