Lima Perjalanan
![]() |
| Foto: Pribadi |
Liburan
kuliah kali ini diberikan waktu oleh kampus cukup panjang,jatah libur hampir
dua bulan penuh. Biasannya liburan semester ganjil itu paling hanya dua minggu
tapi ini liburan terlama yang membuatku jadi bingung ingin melakukan apa. Akhirnya
aku memutuskan untuk mengikuti kaki ke mana saja berjalan, aku membuat yang
namanya street vacation, kalau diartikan liburan di jalanan. Bagiku
persoalan mengisi hari-hari yang kosong ketika libur itu adalah kemauan diri
sendiri inginnya apa. Jadi aku buatlah lima perjalanan liburanku yang memakan
waktu satu hari penuh di lima tempat yang berbeda.
Liburan
di jalanan yang pertama aku mendatangi tempat yang di mana sebuah keluarga bisa
menikmati hari mereka dengan tenang. Pergi piknik, kemudian ngajakin olahraga
bareng, atau sekadar foto-foto menutup siluet senja kemerah-merahan. 25
Desember 2019, peringatan perayaan natal bagi orang-orang yang menjalaninya.
Jadi semua orang di hari itu sedang libur. Aku bersama salah seorang temanku
memutuskan untuk mengunjungi masjid Agung di Pekanbaru, karena kondisinya belum
pulang kampung kami pun datang ke masjid tempat orang-orang menikmati sore hari
mereka.
Sesampainya
di sana, aku bersama temanku mencari spot untuk foto, lagi-lagi memang tidak
bisa lepas dari kamera. Aku terkesima dengan satu angle objek yang ingin aku
ambil. Salah satu kubah masjid berdampingan berdirinya dengan tanda salib
gereja yang posisinya dibatasi oleh jalanan umum. Berarti Masjid Agung ini
letakknya kira-kira berada di depan gereja tersebut. Saat aku menangkap
gambarnya dan melihat hasilnya, dipikiranku hanyalah kita hidup di negara yang
penuh toleransi, semoga banyak kebaikan dan kedamain di hati manusianya.
Senang saja rasanya, dari hal seperti ini saja
sudah bisa membuktikan kita hidup di negara yang orangnya bisa menerima
perbedaan, bukan dengan berbeda harus saling menghakimi, caci maki, merusak
toleransi tapi dengan perbedaan kita bisa saling menolong, harga menghargai dan
saling menjaga satu sama lain.
Sebelum
pulang mengendarai motor aku dan temanku
mencari objek lain untuk di foto, dengan berjalan kaki kami menyusuri jalan,
terlihat pedagang kue yang berjualan di atas trotoar, orang-orang yang
menikmati porsi makanannya, tukang parkir yang sibuk menata motor ditepi jalan
serta kendaraan yang berlalu-lalang di jalan besar. Semua keriwehan kota ini
menampilkan sisi lain jika dilihat kalau jalan kaki, karena banyak hal-hal
kecil yang tak kita sadari bisa membuat kita belajar apa arti bersyukur.
Selanjutnya
7 Januari 2020, aku melakukan perjalanan
lagi ke desa Okura di Rumbai, tempat di mana banyak sekali bunga matahari dan
jenis bunga lainnya. Perjalanan yang harusnya ditempuh sekitar 50 menit dari Panam
ini memakan waktu lebih kurang 80 menit karena salah satu teman yang menjadi guide
saat itu lupa jalan, kondisi membuat kami semakin cepat menggerus jalanan
karena langit memang sedang tidak bersahabat, samping kanan dan kiri jalan
penuh dengan pohon kelapa sawit, Meski gerimis turunnya tidak lebat tapi itu
tidak menghalangin langkah kami menyusuri kelokan jalan satu per satu. Saat
sampai di lokasi hujan pun menghilang, kami menikmati suasananya.
Pertama
kali aku melihat bunga matahari yang tingginya melebihi tinggi badanku sendiri.
Aku berjalan ke dalam tumbuhan yang bijinya bisa dimakan itu. Di ujung kebun
bunga matahari itu ada danau yang luas sekali. Saat itu sebuah kapal besar
sedang lewat, petugas di kapal tersebut memandang ke arah kami berdiri, aku
langsung mengambil handphone dan memotret kapal yang entah kemana akan bermuara
itu.
Di
Okura kami bermain ayunan seperti ayunan anak TK, duduk di atas salah satu
objek foto, kemudian cerita mengenai kampung halaman masing-masing dan hari
semakin mulai memasuki malam, kami pun pulang ke rumah masing-masing, dengan
arah yang berbeda kami meninggalkan Taman Okura yang indah itu.
Perjalanan
selanjutnya dimulai pada 18 Januari. Aku
pergi ke tempat wisata air yang ada di kota Payakumbuh, namanya Wakanda alias
Wisata Kapalo Banda. Kebanyakan orang yang sudah tahu dengan tempat itu
menyebutnya Niagaranya Payakumbuh. Kondisi air pada saat itu sedang
deras-derasnya, aku bersama salah satu sahabatku saling berpegangan tangan
supaya sendal yang dipakai tidak terbawa arus saat menyebrangi lintasan.
Banyak objek yang baru di Wakanda seperti tempat berfoto yang bentuknya seperti rumah
pohon,di setiap sisi masuknya dihiasi daun kelapa yang sudah kering, kemudian
ada juga ayunan yang dibuat dipinggir aliran sungai yang airnya setinggi betis
orang dewasa, yang tak kalah perubahannya di sana sudah ada deretan pohon pinus
yang biasanya bagi keluarga yang ingin piknik atau anak-anak sekolah yang
sedang camping bisa dengan santai beristirahat dan bermain di sekitar
area pohon pinus. Setelah bermain sepanjang hari perjalanan di Wakanda ditutup
dengan makan kerupuk mie kuah kuning khas Ranah Minang.
Lima
hari setelah dari Wakanda, aku pergi ke Bukittinggi menemani salah satu teman
ke sebuah Rumah Sakit Stroke yang tidak jauh dari pusat kota. Awalnya tidak
berkeinginan untuk jalan-jalan, tapi pikiran dan langkah kaki malah ingin untuk
berkeliaran di sekitar Bukit. Nah daripada enggak ada kerjaan sedangkan urusan
di rumah sakit cepat selesai, maka kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa
tempat yang ada di Bukittinggi seperti Pasar Aur Kuning yang di mana aku kembali
menemani teman berbelanja barang yang akan dibawanya pergi ke Tanah Suci dan Turkey.
Setelah
itu kami menikmati yang namanya makanan pisang panggang H.M Zen yang terletak
tidak jauh dari Jam Gadang. Seberes makan, kami pun mampir ke Janjang Pasangrahan
untuk berfoto sebelum pulang. Kenapa memilih di sana karena relief tangganya
aestetic saja dan di setiap dinding pertokoan orang di sana dihiasi aneka
gambar sehingga unik dan menarik untuk difoto. Setelah semuanya selasai dengan
kondisi cuaca yang gerimis kami tetap melanjutkan pulang ke Payakumbuh.
Perjalanan
kelima tepat diawal bulan sebelum aku pulang ke Pekanbaru, 1 Februari 2020. Lagi-lagi
bersama seorang sahabat, iya kami mengunjungi Air Terjun Sarasah Murai di
kawasan Lembah Harau. Karena lokasi menuju ke air terjun cukup jauh, kami deg-deg
kan karena berdua, perempuan lagi jad agak takut juga soalnya tempatnya sepi. Sahabat
yang aku ajak pergi pun bertanya-tanya apakah benar ini jalan menuju lokasi air
terjun. Daripada membuatnya semakin khawatir, aku bilang jalanan yang kita
lewati ini betul.
Sepanjang
perjalanan menggunakan motor mata ini tidak pernah berhenti melihat sekitar.
Sangat indah. Ya mulutku tak berhenti mengucap bahwa keindahan alam yang
diberikan sama Tuhan memang indah, bahkan tak tertandingi. Bagaimana tidak?
Kiri dan kanan semuanya terpampang bukit yang warna hijaunya masih asri. Rumah
penduduk yang yang masih tradisional dan jalanan yang tiap saat dilalui masih berbatu.
Jalan masuk ke lokasi dikelilingi dengan semak dan hutan, melewati jalan
setapak yang turun naik kami benar-benar dibuat takjub dengan warna cantik air
terjun saat mengalir dari atas. Bening dan bersih, ingin rasanya saat itu
langsung terjun dan menaiki bebatuan tiga tingkat dari air tejun tersebut.
Namun apalah daya niatnya hanya ingin
cemplungin kaki dan berfoto. Tempat itu sepi dari keramaian, terakhir aku
datang ketika masih duduk di bangku sekolah. Setelah menikmati kesempatan yang
luar biasanya itu, kami pun pulang keluar dari pekarangan lokasi air terjun dengan
membayar uang 5000 satu motor. Semoga nantinya akan kembali lagi, bersama
banyak orang yang tentunya cerita bisa lebih bervariasi.
Perjalanan
kelima tempat inilah menutup liburanku selama di kampung halaman, Sumatra
Barat. Ternyata benar kata siapa pun itu, kebahagiaan itu kita sendiri yang
ciptain, bukan orang lain. yang kenal diri kita ingin senang dan sedih adalah
kita sendiri. Mungkin kalau aku tidak menggerakkan tubuhku keluar dari rumah
takkan ada hari yang menyenangkan karena pasti kerjaan tidak produktif dan
hanya rebahan-rebahan tidak jelas.
Aku
berjalan sambil menuliskannya, pelupa menjadi sasaran empuk untuk bisa
menghilangkan ingatan dengan cepat. Jadi catatan kecil selalu aku persiapkan.
Beri hal baik untuk hidup yang terus berkembang dan tumbuh, salurkan energi
positif pada setiap apa yang kita kerjakan dan temui orang-orang baru yang
pengetahuan dan pengalamannya bisa ikutan merubah hidup kita. Sejatinya
perjalanan ini menantangku untuk tertarik menjelajah apa yang ada di luaran
sana, entah baik atau buruk, entah senang atau sedih. Itulah yang namanya
perjalanan, semuanya adalah hadiah yang mengejutkan.











Komentar
Posting Komentar