Magang Jadi Wartawan Kampus





Sedikit dari kebanyakan orang menuliskan mimpinya di sehelai kertas, berusaha menggantung mimpi dan menikmati proses untuk mencapainya. Setelah mendapatkan mimpi  berusaha kembali untuk bisa bertahan dengan seleksi alam. Apakah kita bisa bertahan atau malah hilang ditelan bumi karena tidak sanggup untuk meneruskan. Begitulah nasib anak magang, seperti aku. Magang jadi wartawan kampus.

Sekitar bulan September 2017 lalu dibuka open recruitment bagi anggota baru lembaga Pers Mahasiswa Gagasan UIN Suska Riau. Setelah pengumpulan berkas selama beberapa minggu diadakanlah sesi wawancara oleh tiga orang kru gagasan. Semua calon benar-benar mempersiapkan bentuk pertanyaan yang sekiranya akan ditanyakan didalam ruangan sekretariat itu. tibalah giliran aku yang di wawancarai, sembari menyodorkan map merah yang berisikan bentuk tulisanku yang pernah di muat di koran Singgalang aku berusaha tenang saat mapku dibuka. Setelah itu mereka mulai menanyakan satu per satu pertanyaan yang merancu pada jurnalistik. Singkat cerita aku bisa menjawab dengan baik, meski lumayan lama diwawancarai.

Menunggu sekitar dua hari hasil pengumuman seleksi wawancara keluar di instagram gagasan online. Aku lumayan gugup saat membukanya, takut ga diterima. Ternyata Allah SWT menjawab semua doa-doaku, namaku tercatat nomor dua diantara 32 orang calon pers gagasan yang lolos. Ternyata usahaku tidak mengkhianati hasil, selagi terus mencoba dan optimis pasti ada saja jalan dari Allah untuk bisa mewujudkan mimpi menjadi seorang journal.

Di bulan Oktober 2017 diadakan Diklat Dasar Jurnalistik selama tiga hari. Dalam kegiatan itu para anggota baru gagasan diberikan suntikan ilmu dari para orang-orang hebat yang telah duluan terjun di dunia jurnalistik seperti Firman Agus ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen), Hasan Basril (Pimpinan redaksi Go.Riau.com), Bayu Made Winata (Project Manager 34jewels.com), Nazir Fahmi (General Manager Riau Pos). Selain itu diadakan pula temu ramah dengan Fopersma (forum pers mahasiswa) se-Universitas yang ada di Riau tidak ketinggalan saat itu para anggota baru melakukan liputan di Kampung Melayu.

Setelah semua kegiatan itu berakhir magangpun dimulai. Pers diharuskan untuk meliput seluruh isu-isu yang tersebar di kampus. Apa saja bentuk isu tersebut boleh dijadikan  berita straight news, feature, sastra, dan lainnya. Tergantung dari TOR (Team of reference) angel yang diambil. Terutama adalah melakukan liputan dan mengirim berita ke redaksi. Dan magang berlaku selama tiga bulan. Disanalah para kru senior melihat siapa saja dari 32 orang kru magang yang akan bertahan di gagasan, alam yang akan menyeleksi mereka. Mungkin ada beberapa nantinya yang akan menemukan titik jenuh, hilang tanpa kabar, dan akhirnya tinggal beberapa nama yang benar-benar memilih gagasan sebagai tempat belajar dan menukar wawasan pikiran.

 Magang jadi wartawan kampus bagiku merupakan sebuah tantangan baru. Menemukan beberapa kesulitan saat wawancara narasumber itu sudah kerjanya seorang wartawan, meliput kembali berita yang kurang komplit, harus desak-desakan mengambil foto, narasumber yang susah dihubungi, menyalin rekaman suara narasumber dan menggabungkan dengan yang ditulis, menuliskan berita memakan waktu 1 jam, terpenting adalah berita yang ditulis fakta bukan berita hoax.

 Namun, semua itu adalah proses belajar dan berkarya. Selama terus menulis maka tangan, pikiran akan semakin terampil dan ilmu yang  didapat bermanfaat buat orang banyak. Setidaknya membuat pembaca setia senang dengan apa yang ditulis itu sudah merupakan ibadah bagi kita.

 Bagiku bedanya menulis berita isu-isu kampus dengan menulis sewaktu aku pernah menjadi wartawan sekolah dulu adalah dilihat dari rubrik yang akan ditulis. Isu-isu kampus lebih mengarah kepada sesuatu yang serius untuk diliput seperti adanya masalah pada Pemilihan presiden mahasiswa, pemilu gubernur/wakil di kampus, aksi demo mahasiswa dan dosen, kronologi pembangunan yang tidak selesai dan lainnya. Sedangkan menulis saat di sekolah dulu ruang lingkupnya masih seputar pembicaraan anak sekolah dengan berita softnews. Liputan siswi dan guru yang berprestasi, artikel-artikel seputar sekolah, dan lainnya.

Tetapi, itulah yang disebut dengan belajar dan berkarya. Tidak menunggu berapa banyak kita berkecimpung di dunia kepenulisan, mahir atau tidak, jelek atau bagus, terpenting berkarya itu belajar.  Belajar untuk membuat tulisan lebih baik setiap harinya.(Siti Nurlaila Lubis/Mahasiswi Uin Suska Riau)

Tulisan ini di muat di koran Harian Umum Singgalang pada tanggal 21 Januari 2018 

Komentar