Panggil Saja EL
![]() |
| Doc. Google ilustrasi EL |
Namanya
EL, perempuan berkaca mata dua puluh tahun silam. Tipikal anak yang mandiri,
cerdas, bertanggung jawab dan pendiam. Ia tidak gampang akrab dengan
orang baru, meski begitu pergaulannya dalam pertemanan cukup di apresiasi.
Karena ia mampu menjadi netral jika berada di tengah teman- temannya. Tidak memihak kanan ataupun kiri jika sedang ribut, ia benci keributan.
Anak
penurut dan easy going ini sangat menyukai bepergian jauh alias jalan
jalan. Terserah mau jalan ke mana, terpenting ia bisa memiliki waktunya
sendiri. Baginya berkelana sendiri tidak terlalu membosankan, ia bisa
menciptakan kesederhanaan dan kebahagiaan bagi dirinya sendiri.
Dalam kesehariannya El di kenal sebagai orang
yang keras, cuek, jutek, judes. Itu bagi orang yang baru mengenal ia pertama
kalinya. Kata mereka sih first impression berkenalan dengan El. Tetapi,
bagi teman dekatnya ia adalah anak yang heboh, tegas, bisa nge-bossy, kuat,
penyayang dan lembut. Semua kepribadian itu datang dari perjalanan hidup dan
turunan orang tua di masa muda. Katanya. Meskipun demikian El tetap aman-aman
saja menjalani rutinitasnya.
Bahas-bahas
tentang rutinitas, El itu sering nongkrong di perpustakaan kota. Baginya selain
berpergian bisa hilangin stress, perpus adalah ruang tanpa batas bagi otaknya.
Kerap ia hilang di dalam ribuan buku yang terpajang di rak. Kerjaannya mengambil satu buku dan
diam-diam mengeluarkan cup coffee sebagai teman dalam membaca. Padahal
El tahu jika sedang berada di dalam perpustakaan di larang membawa makanan/minuman
apapun. Tapi, ia tidak menggubris peraturan itu, baginya peraturan di buat ya
untuk di langgar. Itulah mengapa El mau
berjam-jam di sana tanpa di ketahui orang.
Selain
perpustakaan, tempat kedua yang disukai El adalah halte bus kota. Tempat bertemunya
manusia asing satu sama lain. Tempat banyaknya orang yang tidak di kenal saling
melirik dan melempar senyuman. Bahkan
halte menjadi tempat pencarian jodoh bagi beberapa orang. Ya siapa tahu
ada yang sedang benar-benar mencari sampai ke halte. Kalau sebut halte berarti
erat kaitannya dengan bus kota. Alasan El suka halte karna ia juga suka bus
kota. Ternyata El bisa selingkuh juga. Setidaknya perantara selingkuh dari
keramain.
Menyinggung dunia pendidikan, sekarang El sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi yang
ada di Indonesia. Di masa putih abu-abu dulu ia termasuk siswi yang bisa
diperhitungkan, sering masuk sepuluh besar diantara 35 siswa/siswi di kelas. Ia
masih saja penurut sama guru, terkadang juga bisa bandel. Tapi tidak senang
bolos.
Di sekolah El hanya sibuk dengan organisasi dan hangout di kantin bersama teman-temannya, kalau di rumah ia jarang mengulang pelajaran. Tapi, setiap ditanya guru selalu mampu menjawab bahkan jawabannya lebih di luar dugaan. Cerdas banget,,
Ia memang cerdas kalau dalam wawasan, tapi untuk soal kisah percintaannya di masa sekolah bisa dianggap lumpuh total. Pernah menyukai senior teladan di sekolah, tapi ga berani ngedeketin karena senior itu Ketua Osis dan banyak cewek-cewek ngincar si Ketos. Jadinya minder. Terus pernah suka sama temen kelas sendiri, udah ngungkapin tapi dianya ga mau karena pengen banggain orang tua, eh beberapa bulan kemudian dianya menjalin hubungan sama teman sendiri. Memang omong kosong.
Semenjak itu El bertekad untuk sendiri. Ia punya prinsip, berjuang bersama mendapatkan rasa itu lebih seru di bandingkan sendiri, lebih sejalan, seirama dan sefrekuensi. Bahagia berkorban dan down to earth nya itu dapat banget. Makanya di masa kuliah ini El ga main-main buat urusan perasaan, perbaiki dan pantaskan diri aja dulu, nanti yang terbaik itu pasti di pertemukan.
Tentang sifat, pendidikan, asmara sudah di bahas. selanjutnya adalah keluarga. El memiliki keluarga yang komplit, punya bapak, ibuk, abang laki-laki dan adik perempuan. Jadi El itu anak kedua dari tiga bersaudara. Semenjak El masuk kuliah, hubungan keluarganya tidak seharmonis dulu, gonjang ganjing tentang pertikaian orang tua semakin membuat rumah tidak nyaman untuk El.
Bapak dan Ibuk sering berkelahi di depan ketiga anaknya, mereka membuat rumah yang dulu di bangun dengan indah sekarang menjadikan rumah seperti neraka. Perkara mereka hanya dugaan orang ketiga dalam rumah tangga. Abang yang biasanya tidak pernah pulang malam, sekarang keluyurannya sudah sampai shubuh. Adik bungsu hanya bisa diam, karena masih belum mengerti tentang adu mulut orang tuanya. ia hanya mengerti bapak dan ibuk masih doyan membelikannya mainan.
Di sekolah El hanya sibuk dengan organisasi dan hangout di kantin bersama teman-temannya, kalau di rumah ia jarang mengulang pelajaran. Tapi, setiap ditanya guru selalu mampu menjawab bahkan jawabannya lebih di luar dugaan. Cerdas banget,,
Ia memang cerdas kalau dalam wawasan, tapi untuk soal kisah percintaannya di masa sekolah bisa dianggap lumpuh total. Pernah menyukai senior teladan di sekolah, tapi ga berani ngedeketin karena senior itu Ketua Osis dan banyak cewek-cewek ngincar si Ketos. Jadinya minder. Terus pernah suka sama temen kelas sendiri, udah ngungkapin tapi dianya ga mau karena pengen banggain orang tua, eh beberapa bulan kemudian dianya menjalin hubungan sama teman sendiri. Memang omong kosong.
Semenjak itu El bertekad untuk sendiri. Ia punya prinsip, berjuang bersama mendapatkan rasa itu lebih seru di bandingkan sendiri, lebih sejalan, seirama dan sefrekuensi. Bahagia berkorban dan down to earth nya itu dapat banget. Makanya di masa kuliah ini El ga main-main buat urusan perasaan, perbaiki dan pantaskan diri aja dulu, nanti yang terbaik itu pasti di pertemukan.
Tentang sifat, pendidikan, asmara sudah di bahas. selanjutnya adalah keluarga. El memiliki keluarga yang komplit, punya bapak, ibuk, abang laki-laki dan adik perempuan. Jadi El itu anak kedua dari tiga bersaudara. Semenjak El masuk kuliah, hubungan keluarganya tidak seharmonis dulu, gonjang ganjing tentang pertikaian orang tua semakin membuat rumah tidak nyaman untuk El.
Bapak dan Ibuk sering berkelahi di depan ketiga anaknya, mereka membuat rumah yang dulu di bangun dengan indah sekarang menjadikan rumah seperti neraka. Perkara mereka hanya dugaan orang ketiga dalam rumah tangga. Abang yang biasanya tidak pernah pulang malam, sekarang keluyurannya sudah sampai shubuh. Adik bungsu hanya bisa diam, karena masih belum mengerti tentang adu mulut orang tuanya. ia hanya mengerti bapak dan ibuk masih doyan membelikannya mainan.
Dan El? karena
persoalan ini El mulai menjadi anak yang pembangkang, egois, dan lebih tertutup
dengan keadaan. Keributan yang terjadi di rumah setiap saat membuat El harus
menutup kuping dengan kapas, kadang ia melarikan diri pergi keluar mencari
ketenangan. Sampai hari ini rumah baginya sudah tidak akrab lagi. Ia tidak
berharap banyak atas keluarga ini.



Komentar
Posting Komentar