Bunga Terakhir

 

Gambar Pribadi


Pada akhirnya manusia yang sekian lama memendam perasaannya itu mengaku kalah dan menyerah. Menunggunya sangat membuat perasaan sakit, seperti tidak ada lagi obat untuk menyembuhkan kesakitannya itu.

 Mungkin bagi dirinya tak ada kehadiran kedua kali, pertemuan tahun lalu wujudnya hanya sementara. Seandainya ia tahu betapa kencangnya perempuan ini melangitkan namanya melalui doa-doa, tapi rentetan petunjuk dari semesta mulai membuatnya sadar bahwa takdir rasanya tidak melangkah ke arahnya.

Untuk itu bunga yang sangat indah itu akhirnya memilih menutup kelopak cantiknya, pertahanannya untuk tetap mekar sudah sirna. Baginya menjadi bunga terakhir adalah sebaik-baiknya mengabdi kepada kehidupan yang membuatnya tumbuh.

Banyak kata “seandainya” yang terpakai hanya dalam lamunan perempuan itu, selalu ada kondisi di mana rindu dan air mata menjadi satu kesatuan. 

Namun semuanya tak ada yang akan berubah, ia masih dengan dirinya sendiri. Mungkin saja sudah menemukan apa yang ia cari, mungkin saja benar hatinya bukan untuk perempuan ini. 

Tak pernah ada kata menyesal dalam menyukainya, menuruti perasaan yang debarannya hanya Tuhan dan perempuan itu yang tahu adalah pilihan yang sejak awal sudah ia ambil. Bila endingnya akan seperti ini, berarti perjalanannya memang sudah selesai. Bagi perempuan itu ia hanya pengalaman hidup yang membuatnya belajar arti kerja keras menjadi anak pertama.

Selamat tinggal laki-laki baik, selamat tinggal galeri bergambar, selamat tinggal white and grey hoodie, selamat tinggal kaos polos, selamat tinggal musim dingin, selamat tinggal helm dan baju kuning, dan selamat tinggal untuk perasaan yang pelan-pelan mulai dibuang  serpihan berantakannya. 

 

 

Komentar

Postingan Populer