Cerita Donor Darah Pertama

 

Gambar Pribadi

Hari ini udara di kota bertuah ini panasnya sangat terik padahal baru pukul setengah sembilan pagi, matahari sudah cantik-cantiknya menerangi bumi dan seluruh isinya. Ditambah lagi langit terlihat biru dan kumpulan awan-awan kecil mulai bermunculan, mungkin mereka tahu kalau hari ini adalah hari di mana saya bersama seorang teman melakukan donor darah untuk pertama kalinya.

Saya berangkat menggunakan motor, boncengan sama teman sendiri meninggalkan pondokkan alias tempat tinggal dalam beberapa jam ke depan. Biarlah anak kucing yang baru lahir itu puas bermain di teras karena terlalu lapangnya parkiran motor. Sepanjang perjalanan kami hanya bercerita hal-hal receh yang menjadi hiburan semata, saya pribadi agak sedikit gugup karena awalnya tak ada niatan untuk donor, karena teman mengajak, saya akhirnya menyanggupi permintaannya. Lokasi Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia berada di tengah kota, jadi agak memakan waktu untuk ke sana.

Saat kami sampai di lokasi, sudah berjejer satu tenda dengan kursi-kursi yang berjarak satu meter sesuai dengan protokol kesehatan. Orang-orang yang hadir tidak terlalu ramai berdatangan pada Minggu pagi ini, beberapa terlihat mengisi formulir yang sudah diletakkan di atas kursi, beberapanya lagi sibuk memeriksa suhu badan bersama sekuriti sebelum masuk ke ruangan untuk melakukan pengecekan sebelum mendonorkan darahnya. Jika saat itu memenuhi syarat yang sudah ditentukan, maka orang tersebut diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya.

Moment itu pun tiba kepada kami, saat sedang mengisi formulir yang berisi banyak pertanyaan itu, ada seorang laki-laki kira-kira usianya 30an menyapa kami yang sedang duduk. Dia menanyakan kepada kami apakah ingin melakukan donor darah pada hari itu, lalu kami mengiyakan pertanyaannya bahkan kami mengatakan kalau ini adalah donor darah perdana. Lalu laki-laki dengan kemeja warna belang-belang itu bertanya lagi, kalau ingin donor darah apakah bersedia darahnya diberikan kepada ibu mertua saya yang sedang sakit kanker?. Mendengar perkataannya seperti itu, kami berdua langsung saling berpandangan karena ini adalah prosedur pertama yang dilalui, jadi agak bingung. Setelah tahu kalau golongan darah ibu mertuanya adalah O, kami berdua mengiyakan niat baik itu karena golongan darahnya sama dengan kami. Dia pun menuliskan nama ibunya di kertas formulir pada kolom penerima donor darah.

Gambar Pribadi


Kami pun masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, masing-masing dari kami diambil sampel darahnya untuk dilihat apakah (Hb) Hemoglobinnya tinggi (sesuai dengan kadar normal) atau rendah. Jika rendah maka bisa dipastikan belum bisa melanjutkan ke tahap pemeriksaan selanjutnya untuk melakukan donor darah tersebut. Hanya menunggu beberapa detik, kami berdua dinyatakan belum bisa melakukan donor darah karena (Hb) Hemoglobinnya rendah. Biasanya untuk wanita dewasa kadar normal Hb nya berkisar dari 12-16 g/dl. Tapi kami berdua tidak sampai ke angka yang sudah ditentukan.

Gambar Pribadi


Mendengar perkataan petugas yang memeriksa, perasaan saya tiba-tiba sedih. “Kenapa enggak bisa sih, padahal abang tadi perlu banget darah untuk ibu mertuanya” kalimat itu terucap di dalam hati saya untuk pertama kalinya, mungkin hal semacam ini kali ya yang membuat pendonor yang ingin sekali mendonorkan darahnya menjadi emosional. Akhirnya kami berdua keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri laki-laki tadi, dia masih duduk di deretan kursi pendatang. Teman saya memulai pembicaraan itu kalau kami berdua belum bisa untuk donor dan beliau memaklumi dan mengatakan terima kasih. Kami pun pamit dan meninggalkan Unit PMI tersebut.

Di perjalanan pulang saya masih berdebat dengan diri sendiri, meski tak menampakkannya kepada teman saya yang justru mengekspresikan kesedihannya di depan saya. Saya pun berpikir jernih. Yang pertama itu tidak selalu menjadi yang terakhir, akan ada kedua, ketiga untuk menemukan hasil akhir yang baik.

Mungkin kali ini diperlihatkan pengalaman pertama dulu dalam upaya menjadi pendonor itu seperti apa, mulai dari tahap prosedur awal sampai pemeriksaan. Berarti hal yang bisa dipelajari dari pengalaman pertama adalah berusaha untuk meningkat Hb dengan menjaga pola makan. Mengkonsumsi banyak nutrisi, protein dan zat besi supaya kadar Hb nya bisa naik. Untuk sampai ke sana, harus berjuang memenuhinya. Semoga saja bulan depan hasilnya bisa baik, supaya darahnya berguna untuk siapa pun yang membutuhkan.

 

Komentar

Postingan Populer