Americano
![]() |
| Gambar Pribadi |
Gerimis
membasahi kota kelahiran ibuku, sebagian orang yang berlalu lalang di jalanan
mencari tempat untuk menepi dan sebagiannya lagi meneruskan perjalanan ke
tempat tujuan masing-masing. Termasuk saya yang saat itu tengah dikejar waktu menuju
ke tempat pengambilan uang.
Terburu-buru
bukan karna hal lain tapi takut gerimisnya berubah menjadi hujan yang membuat
saya lama sampai di rumah. Udara di kota ini pun yang siang hari dirasakan
sangat panas berubah menjadi dingin saat malam, sesuai dengan kebiasaan saya
yang tiap keluar malam selalu lupa membawa baju hangat dan mantel. Alhasil gerimis
yang cukup deras itu berkesempatan mengguyur tubuh saya dengan airnya, membuat
buram pandangan karena kacamata yang saya pakai juga ikutan basah.
Saya
tak berlama-lama mengambil uang, seberes itu saya langsung menuju ke tempat
tujuan yang mau saya datangi. Lagi-lagi incaran saya tentunya kedai kopi. Kedai
kopi ini merupakan tempat langganan saya
membeli minuman yang ingin saya minum.
Oh
iya, beberapa hari terakhir ini kedai kopi tersebut baru saja berpindah tempat
dan direnovasi secara keseluruhan. Saat pertama kali saya datang dan melihat
suasana di sana, saya takjub dengan detail konsep di dalam kedai tersebut. Apalagi
orang-orang yang menikmati kopi di sana berdatangan tanpa henti.
Ada yang datang sendirian seperti saya dan ada
juga yang bergerombolan dengan anak tongkrongannya. Pokoknya kedai kopi ini
membuat saya candu untuk datang kembali, menjadi tempat menulis yang nyaman
meski berisik dengan suara ocehan serta obrolan orang-orang. Tapi semua itu tak
masalah, karena saya masih bisa menulis di tengah keributan.
Saya
menyukai kopi susu di kedai kopi tersebut, kebanyakan kopi susunya banyak
disukai pula sama anak muda yang biasanya duduk di sana. Tapi saya tak menolak
untuk mencicipi Americanonya. Iyap, Americano dingin tanpa gula adalah salah
satu minuman kesukaan saya. Tapi ya akhir-akhir ini dibandingkan kopi susu, Americano jadi incaran untuk menikmati malam.
Meski orang tak banyak menyukainya karena
rasanya yang pahit tapi entah kenapa saya tak berhenti untuk memesannya. Saat meminumnya
mata saya langsung melek dan pikiran bisa fokus untuk menulis cerita yang saya
buat. Begitulah Americano membuat saya tak pernah menolak untuk meminumnya.
Saat
saya datang ke kedai tersebut saya memakirkan motor di luar, seketika saya
tersadar dengan motor sebelah yang berada dekat dengan motor saya. Di atas
motor tersebut ada dua helm, salah satu helmnya berwarna kuning, warna kesukaan
saya. Helm itu sangat familiar
diingatan. Seketika pikiran saya mengingatkan tentang seseorang yang saya
kenal, pemilik motor yang pernah menjemput saya ke rumah.
Seseorang yang sampai hari ini masih saya
kagumi keberadaannya di muka bumi ini. Seseorang yang membuat saya tak berkutik
melihat orang-orang di kedai tersebut sehingga fokus saya hanya pada mbak-mbak
kasir. Lucu sekali memang.
Padahal
itu adalah kesempatan saya untuk melihatnya lebih dekat bahkan bisa jadi ketika
sepasang mata saya bertemu dengannya kami akan bertegur sapa, namun
kenyataannya tak sesuai dengan realita yang ada, saya tak seberani itu, saya
tak semampu itu untuk mencari keberadaannya di antara puluhan manusia yang
sedang menikmati kopi. Kaki saya tiba-tiba lumpuh total, perasaan berdebar
karena takut jika dia melihat, saya akan mengalami salah tingkah yang tak
biasa.
Untungnya
americano dingin yang saya pesan cepat siap penyajiannya, itu menjadi tameng
untuk kabur dengan segera. Sedikit menjadi buta terkadang membuat hati lega,
meski beberapa kali saya merindukannya tapi beberapa kali pula saya harus sadar,
bahwa rumit untuk sekarang harus mengakui perasaan ini kepadanya.
Setelah
pesanan sudah berada di tangan, saya langsung meninggalkan kedai kopi tersebut.
Tak berharap banyak jika dia melihat saya ketika memesan kopi. Kalau pun iya,
yaudah itu menjadi cerita yang ia simpan sendiri. Jika tidak, malam ini
ceritanya hanya untuk saya.
Gegara menginginkan Americano saya menemukan dia meski hanya sepeda motor dan helm yang biasa ia pakai. Menyukai seseorang dalam hidup saya mengapa rasanya sukar sekali untuk mulus-mulus saja jalannya, selalu ada penghalang yang susah untuk dijelaskan. Meski demikian perkara cinta-cintaan ini saya masih saja memilih sendiri.
Entah sampai kapan jalan percintaan saya yang pahit seperti Americano
yang saya minum ini akan berbuah manis. Kadang semakin menunggu membuat saya
banyak bertanya, sungguh kali ini memendam tidak semudah yang dibayangkan. Resiko-resiko
besar yang ada di kepala ini membuat saya berhenti untuk menyatakannya, makanya
hampir setahun saya membiarkannya berjalan tak beraturan.
Saya
pikir perasaan ini tidak akan pernah ada lagi karena jarak dan intensitas
pertemuan itu sudah tak ada lagi. Tapi itu hanya kebohongan dari hati dan
pikiran, perasaannya masih ada untuk tumbuh. Segala macam kesibukan untuk
membuatnya lalu, tapi saya masih saja terjebak. Namun untuk kali ini saya tak
ingin membuat luka lagi, jadi membiarkannya saja itu lebih baik untuk saat ini.
Malam
ini saya tutup cerita yang di luar kendali saya sendiri. Tidak diciptakan
dengan sengaja, melainkan pencipta mengaturnya ketika saya berserah. Sepandai-pandainya
saya menutupi, semesta punya cara lain untuk membuat saya menemukannya. Americano
dingin tanpa gula itu menjadi penyebabnya.



Komentar
Posting Komentar