Bukan Tokoh Utama
![]() |
| Gambar Pribadi |
Kita terlahir menjadi manusia yang memainkan peran utama, kita menjadi aktor atau aktris yang memerankan karakter bernama diri sendiri. Mau alur ceritanya bahagia atau sedih, jelas kita sendiri yang menentukan. Tidak ada sutradara yang turut campur tangan dalam menentukan ekspresi apa yang harus dimainkan dalam setiap adegan.
Tidak ada sorak-sorakan kru yang ikut hadir meramaikan
membantu jalannya shooting. Semuanya dikerjakan sendiri oleh tokoh utama.
Durasi dari tiap adegan pun tidak pernah diberikan limit karena selalu berjalan
setiap hari. Lantas jika di kehidupan sendiri masih menjadi tokoh utama, apakah
di hidupnya seseorang pun tetap menjadi tokoh utama dalam ceritanya?
Kali
ini mungkin berbeda jalan ceritanya. Dulu saya pernah mengenal seseorang yang
saya temui di 2019. Ketika itu saya satu almamater dengannya. Kami dekat dan
menjalani hubungan sebagai teman akrab, namun hubungan sebagai teman itu tidak
berjalan dengan baik. Salah satu di antara kami kalah karena telah mengungkapkan
perasaan sukanya, sehingga membuat hubungan pertemanan itu agak sedikit
berubah.
Namun
salah satu di antara kami pun merespon perasaan itu dengan sangat baik,
menerima segala macam bentuk perhatian. Setelah hampir satu tahun menjalani
hubungan yang tidak jelas statusnya apa, seseorang itu meninggalkan saya tanpa
basa basi. Dia menemukan seseorang yang pada saat itu sudah menjadi kekasihnya.
Saat itu saya sadar kalau saya bukan tokoh utama di hidupnya, saya tidak
memerankan peran tersebut sampai akhir. Saya hanya sebagai pemeran pengganti
sementara dari tokoh utama itu.
Sungguh
saya hancur ketika mendengar kabar itu dari orang-orang. Saya memarahi diri
sendiri karena tertipu oleh karakternya yang baik. Lagi-lagi sesuatu yang diperlakukan dengan
baik memang mudah membuat hati tertarik. Saya terlalu perasa sudah menangkap
sinyal yang jelas bukan untuk saya.
Perihal cerita-cerita manis yang sudah dibuat
bersama rasanya menjadi menyakitkan untuk diingat saat itu. Saya terperangkap
dengan semua omong kosongnya yang mampu membuat luluh. Hingga akhirnya saya pun
pergi, saya mengalah untuk orang yang tidak perlu saya lihat lagi keberadaannya,
yang tidak perlu saya dengar lagi suaranya. Saya benar-benar memutuskan untuk
tidak menghubungi dan mencari tahu tentangnya dalam kurun waktu setengah tahun.
Yang
saya lakukan selama enam bulan itu hanya berusaha keluar dari hal-hal yang
terikat dengannya. Saya memutuskan bangkit kembali dari rasa patah yang tidak
mengenakkan itu. Saya mulai menata kembali hidup dan menjalaninya dengan
suasana yang berbeda, meski lama saya pun berhasil.
Ternyata
kehadiran seseorang di hidup kita itu tidak sepenuhnya menetap lama, mungkin
waktu itu ekspektasi saya terlalu tinggi untuknya sehingga membuat saya lupa
bahwa orang ini sewaktu-waktu akan pergi tanpa mengatakan sepatah kata satu
pun.
Memilukan
untuk diingat, rasanya menjadi tokoh utama di hidup seseorang itu memang
benar-benar membuat bahagia. Namun sayangnya saya bukan tokoh utama sebenarnya.
Bagaimana pun semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi bisikan-bisikan orang
tentangnya kepada saya, jika pun ada saya hanya membuatnya berlalu.
Pada
akhirnya tetap tokoh utama yang menjadi pemenang untuk hidupnya, peraih
anugerah tertinggi karena bisa masuk ke dalam hatinya. Meskipun begitu yang
bukan tokoh utama adalah orang yang sangat hebat, berani memutuskan segala
resiko dan bangkit dari semua rasa kecewa bahkan sampai sekarang masih terus tumbuh
untuk menjadi lebih baik. Ia tak mampu menjadi pendendam tapi jago dalam
mengabaikan orang. Ia akan menjadi tokoh utama dalam hidup seseorang, ketika nanti
bila sudah menemukan seseorang tepat.



Komentar
Posting Komentar